RSS
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Februari 2010

Hanya Prolog, Tak Sempat Lebih Dari Itu


Aku benar-benar lupa bagaimana menulis. Beberapa waktu belakangan, aku merasa tak punya waktu untuk menulis, namun lebih tepatnya tak memiliki rasa yang memaksa untuk dikeluarkan dalam kalimat-kalimat. Takut, gembira, kalut, lucu, debar, sakit atau apapun itu telah menyatu menjadi satu, mengawang-awang di angkasa lalu terbang entah kemana. Pergi....

Sudah kuduga, aku memang tak pandai menterjemahkan rasa. Syukurlah aku masih bisa merasakan sesuatu atas apa yang terjadi padaku. Jika tidak, aku pasti sudah dikatakan mati rasa.. Baiknya kukatakan saat ini, bahwa aku ingin menghilangkan rasa itu secara praktis dengan menganggap segalanya baik-baik saja. Jika sudah begitu, biasanya aku akan bertanya, apakah aku benar baik-baik saja? Tapi lagi, bukan untuk dijawab, tapi belajar untuk menyelesaikannya. Kesiapan hidup kita, dipandang dengan sejauh mana kita mampu menyelesaikan masalah demi masalah yang dihadirkan.

Aku mungkin tidak pernah secara yakin menyatakan kesiapan untuk hidup. Namun, saat telah siap bahkan sukses menyelesaikan masalah demi masalah, kau hidup. Itu buatku. Hidup sering terasa hanya untuk menyelesaikan masalah demi masalah, lalu belajar mengambil hikmah. Meskipun, kadang aku merasa tak sempat mengungkapkan apa yang benar-benar kurasakan secara jujur. Mungkin pernah, tapi baru prolog, aku masih tak sempat untuk lebih dari itu.


*Di suatu jeda siang, menyempatkan diri berada di depan monitor.

Minggu, 10 Januari 2010

Tak Menentu

Aku paling tidak senang berhadapan dengan hati yang melankolis seperti ini. Aku benci saat aku kehilangan tenaga untuk bisa berpikir lebih logis dan bijaksana. Aku benci diriku yang patah semangat, aku benci aku yang mudah menyerah oleh keadaan, aku benci hatiku yang rapuh. Seperti saat ini. Saat semuanya berada di luar kendaliku.

Ada apa denganku pagi ini? Bangun dengan perasaan yang sulit kuungkapkan, tak menentu. Padahal aku telah menyusun hati dengan sebaik2nya beberapa waktu lalu. Dan hari ini aku harus bertemu dengan banyak orang. Kalau moodku sedang hilang begini, mungkinkah semuanya akan baik2 saja? huh! I don’t like the way I’m this morning.

Senin, 04 Januari 2010

Datar-datar Saja

Perasaan saat ini datar2 saja. Tak ada yang begitu membuat susah, tak ada yang dipikirkan terlalu dalam, tak ada juga yang begitu membahagiakan hingga meluap2. Semuanya datar. Bagai air yg mengalir pada muaranya. Tapi, aku rasa lebih baik begini. Saat semuanya berada dalam kendali.

Sekarang sudah berada di tahun baru. Semua orang bersuka cita menyambutnya. Tapi bagiku, pergantian tahun hanya momentum. Pada hakikatnya, hidup tetap berjalan seperti sediakala. Apakah tahun ini juga akan menjadi tahun yang “Datar” juga? entahlah. Tuhan tahu itu semua. Aku hanya mencoba menjalani apa yang Tuhan gariskan. Mencoba menjadi seseorang yang ikhlas menerima apapun itu, termasuk apapun yang akan terjadi di tahun ini.

Rabu, 23 Desember 2009

Keajaiban

Senangnya bisa memborong hadiah pada malam itu Gara2nya anak asrama ngebuat lomba puisi, cerpen dan masak nasi goreng moment hari ibu. Dan malam tanggal 21 kemaren itu adalah waktu pembagian hadiahnya. Gak nyangka bisa memberondong hadiah juara pertama lomba cerpen dan lomba masak. Kalau lomba nulis cerpen sih mungkin biasa, tapi kalo lomba nasi goreng seleksinya ketat bangets, soalnya semua temen2 pada ikut. SO, ketika di umumkan juara ke 3 lalu ke 2 udah yakin gak mungkin juara 1, tapi alhasil, kenyataan berkata lain. wah... senang dan surpsise bangets.

He he he... gak begitu penting may be buat diceritain kisah ini. Tapi gak apa2 deh, mumpung masih bisa mengingatnya. Cos, mungkin next year gak bakalan tinggal di asrama lagi, dan gak mungkin buat ngikutin lomba serupa (wuih..,.jd sedih).

Tapi ada satu pelajaran dr itu semua. Bahwa sesuatu yang kita dapatkan dengan tidak disangka2 itu, akan lebih mengesankan dari apa yang bisa kita tebak sebelumnya. Dan dalam hidup ini saya percaya bahwa Tuhan pasti bakalan ngasih keajaiban jika kita telah menanamkan keyakinan.

Sibuk dan Produktif?

Benar2 ngerasa sibuk dan gak bisa membagi waktu sebulanan ini. Entah mengapa. Cuma bisa stay di rumah pagi hari sampai jam 9-an, lalu harus terburu2 ke suatu tempat rutinitas. Semua rutunitas itu baru akan berakhir sore hari. Dan malam hanya akan diisi dengan acara tidur2an, bahkan menahan kantuk hingga pukul 21 saja sudah kewalahan. Sibuk sepertinya. Tapi samakah sibuk dengan produktif? Tidak tentu saja. Dan itu yang saya perlu tanyakan ulang dengan diri ini. Adakah saya sudah produktif dg kesibukan ini?

Minggu, 13 Desember 2009

No more crying

Hari itu mungkin tak akan ada tangis lagi. Dialah hari ketika air mata akan berhenti, pertanda akhir dari kelelahan selama ini. Hanya kata ‘selamat tinggal dan sampai jumpa lagi,’ semoga cukup membayar semuanya...


Ada banyak peristiwa yang membuat kita bertemu banyak orang. Pertemuan itu adalah kesempatan. Dan tidak ada satu pertemuan pun yang tidak disengaja. Semua pasti sudah tertulis dalam takdir manusia, dan menyiratkan maksud tertentu. Seperti kata orang bijak “semua pasti ada hikmahnya...”

Kita mungkin akan belajar banyak hal dari orang2 yang kita temui setiap hari. Siapa saja. Karena manusia satu sama lain itu unik. Ada yang mengajari kita kesabaran, ada yang mengajari kita kesederhanaan, ada yang mengajari kita ketulusan, ada yang mengajari kita optimisme, dan masih banyak lagi. Tapi kita tidak pernah tahu, siapakah dari mereka yang akan masuk lebih dalam di kehidupan kita, mungkin juga hati kita.

Seseorang mungkin akan masuk lebih jauh di kehidupan kita. Kita bersamanya setiap hari. Makan bersamanya, berjalan bersamanya, ngobrol dengannya, pendek kata beraktivitas bersamanya. Tapi itu bukan jaminan dia adalah seseorang yang masuk ke dalam hati kita. Bisa jadi seseorang yang menyentuh hati kita malah seseorang yang tidak selalu bersama kita, bahkan hanya sesekali kita temui, tapi ia membuat kita terkesan dan membuat kita memilih menyimpannya lebih jauh ke dalam hati.

Begitu banyak orang2 istimewa di luar sana. Tapi masalahnya tidak semua orang2 yang istimewa itu akan menjadi istimewa pula di hati kita. Seperti kata seseorang penulis, bertemu dengan banyak orang itu kesempatan, tapi mencintainya adalah pilihan. Begitu mudah kita mengucapkan “Welcome” pada siapa saja yang kita temui. Tapi begitu hati telah memilih seseorang untuk dicintai, kita merasa sulit mengucapkan “Good bye” saat harus melepasnya pergi.

Ketika kita mengatakan “Selamat datang” pada seseorang, kita akan mengatakannya sambil tersenyum. Namun saat kita mengucapkan “Selamat tinggal” kita hanya akan menangis dan terluka dalam. Meskipun demikian, kepergian juga mengajarkan banyak hal. Walau sejujurnya hati kita lebih menginginkan ia tetap ada dan bersama kita hingga akhir kehidupan.

Itulah kehidupan. Datang dan pergi, tawa dan tangis, selamat datang dan selamat tinggal. Ya, tidak ada yang abadi...... tapi saya percaya, ketika kita melepaskan seseorang yang istimewa, kita pasti akan dipertemukan dengan seseorang istimewa lainnya.....

So, no crying anymore

Sabtu, 21 November 2009

Menunggu Hujan

Hujan turun lagi. Mungkin karena Hujan adalah musim yang dipergilirkan. Hujan adalah inspirasi. Di dalam gemuruhnya yang ramai, kita diberikan jeda untuk berpikir dan merenung akan banyak hal. Dia adalah kehidupan, menghapus kegersangan, sama seperti matahari.

Bukan cerita hujan yang ingin kubicarakan. Hanya menunggu waktu, berharap derasnya akan berhenti dan aku dapat pulang sambil menghitung hari di tiap ruas jalan yang akan terlewati. Karena hari sebentar lagi akan malam, dan semua akan menjadi senyap. Tapi tak berarti kehidupan akan terhenti. Kehidupan hanya berganti dengan wajahnya yang baru hingga tengah malam nanti, saat orang2 mulai lelah dan ingin melabuhkan diri pada kasur empuk.

Aku? apa yg akan aku lakukan malam ini? Pertanyaan bodoh. Karena jawabnya adalah; sama saja dengan malam2 lalu. Saat aku harus menghitung detik2 waktu, menunggu di tepi jendela kamar, berharap sesuatu yang tidak akan pernah terjadi. Lalu menghamburkan kekesalan demi kekesalan yang selama ini lama tersimpan rapi.

Lama sudah ku membujuk hati, berkompromi dengan kenyataan dan membawanya lari sejauh2nya. Aku ingin tak seorangpun tahu apa yang aku risaukan selama ini. Tentang hati inikah itu, tentang cita2 kah itu, atau tentang apa saja... meskipun pada akhirnya tetap akan ada satu ruang yang kian hari kian hampa... Tapi tenang saja, kuyakin pada akhirnya semua akan baik2 saja....


"ditulis saat menunggu hujan berhenti.."

Senin, 26 Oktober 2009

Hidup Normal

Satu hari aku berkata pada seorang teman dengan penuh keyakinan. “Back to our normal life..”

Tapi hari ini aku bertanya pada diri sendiri. Adakah hidup yang normal itu? Apakah konotasi kata normal itu sama artinya dengan 'tidak gila', tapi bukankah sebagian besar peristiwa yang kini kita jalani adalah pilihan sadar? Dan karenanya segala sesuatu yang terjadi adalah konsekuensi dari hal-hal yang pernah aku pilih di masa lalu?

Kadang aku berpikir, kalau saja mesin waktu bisa kuputar, bagian mana dari hidup yang ingin kuubah? Jalan mana yang ingin kutempuh lagi, jalan mana yang ingin kuhindari? Sayangnya, jawaban pertanyaan itupun tak berguna. Cuma sekedar mengorek luka lama. Pahit...

Akhirnya, aku pikir, mungkin memang tak ada hidup yang normal. Sekaligus tak ada hidup yang tak normal. Yang ada cuma kini yang nyata, setumpuk pilihan hidup untuk disegerakan. Hidup cuma sekali. Untuk itu mesti berarti. Entah normal atau tidak, tak peduli.

Hanya saja, seperti kata bang 'long' agus, bahwa kita tak akan pernah bisa memperbaiki masa lalu atau kembali ke masa lalu, tapi kita bisa bisa memulai sesuatu yang lebih baik di masa depan.


*Saat sedang "normal"....

Kamis, 22 Oktober 2009

Ku tanya Tuhan

Hei...kutanya Tuhan pagi ini, kalau itu memang yang ia tuliskan sebagai nasib, aku akan menerimanya, dengan senang hati.

Demi sesuatu yang mungkin belum begitu kutahu akhirnya. Atau sesuatu yang masih berputar2 di udara dan belum bermuara di satu titik.

Tak perlu berpikir panjang, cukup berbekal kenekatan, dan membuang pesimis ini. dan Akhirnya... d dream comes true...

i'm so happy, any way.


Rabu, 30 September 2009

Berantakan

Kenapa sekarang jadi tulalit begini? Teledor, ngawur, pelupa, dan segala embel-embel "berantakan" itu ada padaku? What's going on? What's life? the world seems crowded!. Ditambah sama penyakit insomnia yang bikin gak fresh kalo bangun pagi. Aku mulai payah! aku mulai ngerasa gak produktif.

Second chance? sepertinya terlambat. Banyak deadline yang terlewat kini. Padahal dulu udah belajar banyak ilmu managemen. I don't know what i got till now. Huh... what's to be the real problems? I need better reasons. Perhaps, ilmu managemen waktu itu yang udah terlupa, atau karena something wrong with my heart? yah, it can be! Hati adalah patner, kata temanku. Thus, semua ke'berantakan' yang aku alami ini mungkinkah karena hatiku yang berantakan pula?

Ya ya...mungkin itu penyebabnya. LOOK at me now! Jauh dari-Nya, sombong bangetz! gak merasa butuh dengannya. Asik dengan diri sendiri, seolah bisa mengatasi semuanya. Masya Allah... kenapa aku bisa terjebak pada masalah yang dulu ku anggap sepele --seujung jari--- gini? Forgive me, Lord! Aku janji, gak akan lama-lama menyimpan penyakit ini. Aku mau kembali pada Mu saja. Biar aku gak tulalit lagi, biar aku gak teledor, ngawur, pelupa dan berantakan lagi. Biar aku gak pesimis lagi. Aku ingin kembali.

Seperti...


Seperti orang-orang yang telah mengacak hidupku. Seperti orang-orang yang tak pernah merasa bersalah, yang malah menyudutkanku. Tak tahukah bagaimana aku jatuh bangun menjaga hati. Tak tahukah bagaimana aku menyusunnya, meski sudah tak seperti semula. We meet people for a reason. Petuah lama yang kuingat sampai mati, tapi kini membuatku runtuh.Aku kehabisan energi, lelah berlari, lelah membela diri. Aku hampir hancur tanpa bentuk kini. Tapi, apakah ada yang peduli?. Aku tak minta dikasihani,tapi kumohon jangan hancurkan aku lagi. Hidupku sudah terlalu ricuh, jangan gemparkan lagi, jangan tawarkan aku luka itu lagi!

Am I childish?

Ada satu perasaan sedih, yang tiba-tiba menelusup tanpa bisa saya cegah. Kadang membuat saya ingin terbang, melesat cepat dan jauh, sejauh-jauhnya.Kadang pula saya hanya ingin bersembunyi dalam tempurung, jauh dari kebisingan, jauh dari keramaian, jauh dari segala macam polusi yang akan mengecewakan saya. Tapi bukankah dengan lari dari masalah tak akan menyelesaikan semuanya? i just need to make it more simple.

Ah, kenapa masih juga seperti anak kecil? Tapi jujur, saya pernah ingin kembali menjadi anak kecil. Mengembara dalam ruang imajinasi 4 dimensi, bermain-main,dan ketika lelah, tertidur kemudian bermimpi indah. Simple sekali.

Seperti saat ini. Saat seseorang tengah menyalahkan saya, atas sesuatu yang tak penah saya lakukan. Sebenanya saya yang harus bertanya, atau bahkan berhak marah. “Kenapa saya yang disalahkan?”. Kenyataannya, I’ve never started., even since the first time. Dalilya, saya hanya tak ingin memberi harap, juga tak mau berharap. Saya benar-benar tak bermaksud menyakiti siapa-siapa. Maafkan, bila kata menyakiti hati, atau hati ini yang menyakiti hati yang lain.. Saya takut bila memberi sedikit harap, saya malah memberi lebih banyak porsi tuk kecewa.

"mellow attacks"


Rabu, 09 September 2009

Moment mengharukan

Entah berapa lama lagi saya harus menunggu saat-saat itu? setahun, dua tahun, atau malah bisa jadi sebulan dua bulan? Saya terus menunggu, sambil mempersiapkan diri dan berpikir tentang masa depan saya setelah momentum mengharukan yang akan saya saksikan itu.

Mungkin sudah sunnatullahnya begitu. Sedang saya hanya seorang hamba yang mau tidak mau harus melakoni peran dan peristiwa dengan sebaik-baiknya. Berharap, saya akan tegar dan lebih dewasa di lain waktu. Saya hanya meminta satu pada Tuhan, saya tidak menangis untuk moment itu. Walau mungkin hati saya akan mengepingkan luka. Tapi entahlah, apakah saya benar-benar bisa menahan air mata agar tak mengurai? Atau saat itu juga semua akan berderai. Tapi, apapun yang terjadi nanti, semuanya diluar kehendak saya. Sekali lagi saya hanya hamba.

Selasa, 01 September 2009

Merenung


Seiring waktu berlalu
Tangis tawa di nafasku
Hitam putih di hidupku
Jalani takdirku

Tiada satu tersembunyi
Tiada satu yang terlupa
Segala apa yang terjadi
Engkaulah saksinya

Andai bisa ku mengulang
Waktu hilang dan terbuang
Andai bisa ku kembali
Hapus semua pedih

Andai nanti aku bisa kembali ulang segalanya
Tapi hidup takkan bisa meski dengan air mata
(Maha Melihat; Opik feat Amanda)


Aku merenung, tadi malam, bersama gelap di atas lantai dingin sambil menyandarkan kepala di sisi tempat tidur. Mataku menerawang dalam diam, memandangi seorang teman yang telah tertidur pulas. Ah, andai saja saat itu aku diberikan ngantuk, pasti sudah kunikmati lelap melepaskan sedikit beban hidup untuk beberapa saat. Tapi tidak, meskipun mata terasa berat, namun pikiran masih tak bisa kompromi.

Beberapa hari ini aku benar2 sedang ‘fall’. Merasa kosong dan sepi. Dan sepi itu telah melesak dalam ramai sekalipun, membungkam optimisme yang selalu ku punya. Seharusnya aku tak seperti ini. Seharusnya aku bisa merealisasikan cita dan mimpi yang dulu ku susun rapih. Tapi inilah kenyataannya. Semua mimpi telah menjadi angin, dan tak pernah kembali, meninggalkanku termangu menunggu. Memang benar, bahwa keinginan adalah sumber kecewa. Jika tak hendak menjadi abu, maka jangan menanam berharap terlalu dalam.

Aku memang tak sempurna. Sebait kenyataan yang membuatku sadar akan sebuah nilai diri. Aku hanya seorang manusia biasa yang memimpikan semua berjalan sebagaimana mestinya. Aku terlalu merasa benar, merasa super dan bisa melakukan apa saja. Padahal, hanya seonggok daging yang Ia tiupkan Ruh untuk menjalankan scenario takdir yang tertulis.

Kini, ku hanya ingin mendekap kesendirian dengan berfikir, meresapi segala hal yang telah aku bangun, mencoba menata ulang mimpi meski nyinyir, juga keyakinan mulai surut dan membunuh optimisme. Tapi aku yakin, seperti janji-Nya, di balik kesulitan ada kemudahan. Dan keyakinan itu yang tidak boleh hilang kini.

Jelang 02:00 malam.

Senin, 31 Agustus 2009

Biarkan


Aku tak pernah meminta lebih. begitupun hari ini, aku hanya meminta untuk satu senyuman yang membahagiakan orang2 yang akan kutemui hari ini, diiring jabatan tangan hangat seperti biasa.

Aku tak ingin meminta lebih. Karena Kau terlalu baik, hingga tanpa kuminta, semua telah Kau beri. Juga hari ini dan hari2 selanjutnya. Aku hanya meminta untuk tak menangis. Meski kadang waktu, keadaan dan kesempatan tak berpihak padaku. YA, biarkan aku mengurai hikmah itu sendiri, belajar mendewasakan diri, membuka hati, memberi maaf. biarkan..

"feeling greY"

Kamis, 16 Juli 2009

Nikah

Nikah. Satu topic yang membuat saya cukup canggung saat menuliskannya. Tapi karena ini permintaan seorang teman, akhirnya saya memberanikan diri untuk sedikit bicara tentang pernikahan. Kata teman-teman saya ini topic ‘berat’, juga bagi saya. Sekali lagi tulisan ini hanya persepsi seorang ‘saya’ yang masih jauh dari referensi. Maklum, saya ini bukan ustadz, atau orang yang punya kafaah syar’i soal pernikahan dan membangun rumah tangga, apalagi orang yang punya pengalaman pribadi soal ini. So, bagi siapapun yang membaca tuisan ini dan kurang setuju, monggo…untuk memberikan masukan dan meluruskan pemahaman saya ini.

Sejujurnya tema ini sedang hangat-hangatnya di telinga saya. Dan cukup menarik perhatian saya baru-baru ini. Semua memang salah teman-teman saya yang umurnya sudah pada mau 25-an itu. Kalau sudah ‘ngumpul’, tema ini cukup menjadi salah satu tema ‘populer’ diskusi kami. Eit, jangan salah paham dulu… yang menjadi bahan diskusinya insya Allah masih dalam batas koridor yang wajar menurut saya, tidak macam-macam..

Ya gitulah, mungkin memang sudah waktunya bicara soal pernikahan, hitung-hitung sebagai upaya mempersiapkan diri hingga sampai waktunya. Mau tidak mau, karena suatu saat saya dan anda akan menjalaninya juga. Bukankah sesuatu yang dipersiapkan akan lebih sukses dari yang tidak dipersiapkan? Sebenarnya ada sedikit kelucuan dari teman-teman saya yang ‘lugu’ itu saat bicara soal menikah. Mulai dari criteria pendamping hidup, prosesi pernikahan, hingga urusan mengelola rumah tangga (kayak udah pada berpengalaman semua ^_^, padahal…)

Yang paling menarik dari tema ini adalah soal criteria pasangan. Maklum, yang ngomong ini para idealis dan para sarjana atau hampir sarjana, yang keluar pastinya pandangan2 ideal dan perfeksionis pula. Terlepas dari itu semua, saya jadi teringat perkataan seorang ustad: “perempuan itu kalo disodorkan pasangan kalau umurnya masih 20-an komentarnya ‘siapa kamu?’. Nah, kalo udah 25-an ke atas komentarnya ‘siapa sih?’ dan kalau udah 30-an akan menjadi ‘siapa aja’.” Gubrak…!!! Ngeri bener ya. Maksud saya ngeri membayangkan nasib perempuan yang telat nikah karena kesalahannya di masa lalu menetapkan standar yang terlalu tinggi.

Apakah salah menetapkan standar yang tinggi? Tidak, menurut saya. Manuasiawi dan wajar malah. Mengapa tidak boleh menginginkan yang terbaik untuk hidup kita. Apalagi someone ini nantinya akan mendampingi seumur hidup kita. Seumur hidup, bayangkan!. Laki-laki atau ikhwan saya rasa juga begitu. Pastinya criteria calon istri yang diidamkan tentulah perempuan baik2(sholehah), cerdas, pinter masak, bisa ngurus rumah dan ngurus anak, dst, dll, dsb (si laki2/ikhwan pastinya lebih tahu).

Suatu hari teman2 saya nanya, apakah saya juga punya criteria? Soalnya, menurut mereka saya ini yang paling sedikit commentnya kalo udah bicara tentang pernikahan. Jawabannya pasti punya, sama seperti mereka juga anda. Gini2, kita tak ingin sembrono alias sembarangan. Tapi pertanyaan selanjutnya yang mesti dijawab adalah ‘Siapa sih kita?’ ‘hafalan quran kita berapa juz?’, Jika sholeh/sholehah menjadi criteria utama kita, apa yakin kita benar2 baik untuk mendampingi orang yang baik (sholeh)? Apa kita juga ‘on criteria’ atau standarnya kita malah ketinggian padahal kita Cuma ordinary person(baca; orang biasa)..ups,

“Saya ini mahasiswa, jadi nikahnya yang sama mahasiswa juga donk, calon sarjana, yang punya masa depan jelas”, kata teman saya suatu waktu. Teman saya yang lain nyambung “Kalau saya kan orangnya mobile, aktivis, banyak amanah, musti nyari yang mobile dan produktif juga donk…”. Tapi ada satu teman yang bikin saya kagum berat sama belio, dia bilangnya gini :”Saya sih siapa saja boleh, asal yang bisa menjaga saya dan keluarga saya, bisa menuntun saya lebih sholeh, dan saya siap2 aja mau hidup dimanapun dan bagaimanapun”. Walah…saya jadi malu sendiri mendengarnya, soalnya saya ini belum bisa seikhlas itu.

Sekali lagi, saya rasa tidak ada salahnya menentukan standar. Islam juga mengatur hal ini, bahwa sekufu atau kesetaraan dalam memilih pasangan mutlak diperlukan. Namun, jangan sampai ini malah menyulitkan kita sendiri. Ujung2nya telah nikah karena tak kunjung menemukan pasangan ‘on croteria’ itu. Karena kata guru ngaji saya menikah itu adalah menggenapkan separuh agama. Kenapa ‘separuh’ yang diungkapkan, karena diri kita ini memang tak sempurna. Menikah adalah momentum untuk saling melengkapi ketidaksempurnaan tadi. Saling mensupport, saling mengisi untuk lebih produktif, tumbuh dan berkembang bersama-sama istilahnya. Seperti tulisan teman saya di blognya “Cinta ibarat menunggu bus”, jangan sampai deh kita melewatkan bus2 yang kelihatannya kurang nyaman, sesak, panas, hanya untuk menunggu bus2 yang nyaman, sepi penumpang, agar lebih adem, padahal kita tak pernah tahu kapan bus seperti itu akan menjemput kita…

Sekali lagi, tulisan ini persepsi saya pribadi. Yang pastinya, saya ini tidak fakar soal nikah, membina rumah tangga apalagi mengurusi anak… :-). Intinya jauh tidak berpengalaman dari anda semua. Hanya berusaha lebih produktif dengan menulis apa yang menurut saya perlu untuk dituliskan dan dibagi bersama. Selebihnya, seperti yang diajarkan teman saya yang arsitek itu, kita kembalikan pada yang Maha Tahu saja. Wallahualam…



Terinspirasi dari sahabat seperjuangan, ‘bro’ crew, terimakasih banyak atas diskusinya yang membuat saya surprise, kagum, gembira, dan lucu sendiri sendiri… tapi tetap penuh ‘ide’ dan cukup berisi…
katanya Krisdayanti “aku tak mau jadi tuna cinta, ” so, siapa yang mau duluan…???
Teman sehatiku, ukh Vitha, ini persembahanku...jangan diketawain ya...;)

Jumat, 26 Juni 2009

Happiness

KEBAHAGIAAN… You call it Happiness in English…
But actually, have you ever gotten the real happiness? I don’t know. You’ve known d answer. But, don’t ask me about that. I’m trying, still trying to translate that word correctly….in my own way… What about you?

Lelaki itu pergi menjauh… dengan terbata-bata ia kembali mendorong gerobak sampahnya yang terlihat penuh dengan sampah, hasil jerih payahnya mengumpulkan sampah dari satu bak sampah ke bak sampah lainnya. Mungkin ia melakukan ini setiap hari, dari pagi hingga siang seperti saat ini.

Siang ini panas matahari begitu terik. Ku lihat keringat laki-laki itu bercucuran, nampak membasahi baju tipis lusuh yang aku pun tak tahu lagi warnanya, mungkin putih, tapi mungkin juga abu-abu, kumal. Ku yakin, laki-laki yang kini berada di hadapan ku bukanlah laki-laki biasa, yang menghabiskan waktunya dengan santai. Ku lihat postur tubuhnya yang ringkih, hitam khas pekerja keras, penuh dengan keriput di sana sini. Terbayang olehku bagaimana ia berjuang setiap hari, mengais-ngais sampah dari satu tong sampah ke tong sampah lain di jalanan untuk beberapa ribu rupiah, menghidupi keluarganya. Jika tidak, bagaimana mungkin laki-laki yang layaknya disebut kakek itu masih berada di jalanan nan panas seperti ini, bukan bersama keluarga, istri, anak-cucu, sedang bercanda atau makan siang dengan mereka hari ini. Itulah mungkin alasan kenapa aku berada di sini, di sebuah sudut jalan untuk menemuinya setelah sempat putus asa mencarinya, mengitari jalan tempat tadi aku berpapasan dengannya.

Pertemuan yang tak di sengaja memang. Saat aku pulang dari pasar, aku melihatnya dari jauh. Aku takjub. Ku lihat ia dengan sekuat tenaga mendorong gerobak sampahnya yang berat itu menyeberangi jalan yang ku lewati. Entah kenapa, ada yang terasa perih di hati ini. Pemandangan seperti ini memang bukan untuk pertama kali ku saksikan, tapi betapa aku tak berani menuruti kata hatiku. Aku lebih sering membiarkan mereka berlalu. Begitu pun kali ini. Aku membiarkan saja laki-laki pemulung itu berlalu sedang aku kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah. Tapi tak tahu kenapa, ada yang teramat sakit di hati ini, dan aku menangis tiba-tiba saja, aku pun tak tahu mengapa aku menangis. Ku putar kembali motorku. Kembali menyusuri jalan yang sama, jalan di mana aku bertemu dengan kakek pemulung tadi, berharap ia masih di sana.


Lelah aku menyusuri jalan itu, tapi aku tak menemukannya lagi. Aku pun terpaku di pinggir jalan, putus asa. Ku pikir sebaiknya aku pulang saja. Tapi… hei… tunggu dulu, aku kembali menemukan sosok itu sedang berhenti di pinggir jalan seberang. Dia berhenti sebentar mengelap keringatnya lalu kembali mendorong gerobak sampahnya. “Alhamdulillah…”,lirihku. Aku kembali mengejarnya, walau jalan yang kulewati lumayan berputar untuk sampai ke tempat ia berada. Ku lihat ia terkejut saat aku dan kendaraanku parkir di depannya. Aku menyapanya. Aku sempat bingung bagaimana harus menyapanya. Ku lihat ia begitu tergesa-gesa, seperti ingin mengatakan padaku “kenapa berhenti di sini” atau “permisi saya mau lewat”. Tanpa basa basi aku menyodorkan beberapa lembar uang kertas yang sedari tadi ada dalam genggamanku. “Maaf pak, ini buat bapak, diterima ya…”, kataku lirih, sambil takut-takut kalau ia tersinggung dan menolaknya. Aku salah. Ku lihat ia sumringah, tersenyum, memamerkan barisan giginya yang kelihatan hitam sambil menerima uang yang tak seberapa nilainya itu. “Terima kasih mbak…”, balasnya. Tanpa banyak bicara ia pergi meninggalkan aku yang terpaku di pinggir jalan sendirian. Ia menjauh, terbata mendorong gerobaknya. Tapi entahlah, bagaimana harus ku definisikan perasaan ini. Yang ku tahu bahwa aku teramat senang, teramat bahagia hingga aku lupa menanyakan nama bapak pemulung yang baru ku temui itu, juga tak sadar bahwa ada bapak pemilik ruko tempat kami berdiri yang sedari tadi memperhatikan kami.

Ini hanya sedikit kisah “kecil” di perjalanan. Tentang bagaimana kita menterjemahkan kebahagian menurut versi kita masing-masing. Mungkin setiap orang punya defenisi yang berbeda tentang kebahagiaan. Sebagian mendefinisikan kebahagiaan sebagai hidup yang mengalir tanpa hambatan, posisi yang bagus di tempat kerja, financial yang memadai, rumah dan berikut property yang bisa diandalkan, suami/istri yang mencintai, anak-anak yang lucu dan patuh, etc. Mungkin, itu mungkin kebahagiaan. I’m sure everybody loves those.. Tapi entahlah, saya hanya merasa kadang kita terjebak dengan kebahagiaan yang sifatnya materialis. Kita terbiasa mendefinisikan kita bahagia karena kita tak lagi berpusing2 memikirkan bagaimana mengisi perut hari ini… sementara banyak orang disekitar kita yang “tak bahagia” karena urusan perut masih menjadi menu harian yang harus dipikirkan, dan entah kapan berakhir atau mungkin tak pernah berakhir.


Tulisan ini hanya sebuah intermezo dalam perjalanan, tentang bagaimana kita memaknai kebahagiaan kita masing2. Saya yakin setiap orang berhak membuat definisi bahagia itu... tapi yakinlah dengan sedikit rezeki (kebahagiaan) yang kita bagikan untuk orang lain, maka hati kita akan lebih bahagia....

”Di suatu siang yang gerah”

written from one's experience

Senin, 11 Agustus 2008

Kacau

"Rasa kehilangan hanya akan ada,
Jika ku pernah merasa memilikinya..."
(Letto's song, Memiliki Kehilangan)

Puih..., Rasanya pikiran kacau banget, kesel, sedih, dan pengin nangis, pengen teriak sekencang2nya. Sakit banget... bahkan lebih sakit dari yang namanya sakit hati en sakit gigi. Bukan apa2 sih, cuma lagi nggak siap aja menjalani perpisahan ini (kayak lagu ya...?). Susah kali cari orang yang mengerti kita, yang sama hobi sama kita, atau yang bener2 nyantol di hati kita. Tapi, tiba2 aja... harus berpisah. Mendadak banget, sampai2 gak sempat say good bye. Huh... Sekarang??? lagi2 terkejut, yang baru nyatanya beda banget ama yang lama. So cool, calm, and... (it's a secret).
Well, Tarbiyah emang nggak ada matinya, ding. Bertahun2 di lingkarang ini sampai bejamur pun masih tetap aja harus di tarbiyah. Sedih??? Pasti lah, tapi lapangin hati lebar2 aja deh. Allah lebih yahu yang terbaik untuk ku.
Met tinggal ya my beloved friends, Al-Ma'arij crew, temen2 liqo yang ceria, yang punya hobi sama, suka foto and makan. Berat banget pisah dari kalian, sahabat2 luar biasa yang banyak membawa inspirasi. Kayak kayanya Letto, rasa kehilangan itu ada, jika pernah merasa memiliknya.

to: SS, UK, SDJ, RJ, LS, SA, HS, AW, FT, and super MR, Mbak M, Moga cepat menyelesaikan S2nya.