RSS
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Juli 2010

Monolog Tahun ke-25

Berapa umurku kini? Ya, benar.... kini aku hampir 25 tahun.
Coba lihat hidupku. Aku belum jadi apa-apa. Tak ada yang bisa kubanggakan. Belum cukup 'besar' untuk menjadi manusia. Belum layak disebut bermakna.

Lihat aku. Secara duniawi aku tak punya apa-apa. Rumah tak punya. Kuliah belum sarjana. Pekerjaan tak jelas. Fasilitas nebeng semua. Mau bagaimana hidupku tahun depan? Mau kerja apa nanti? Belum bisa kujawab semua. Spiritualitas? Jauh minus. Dewasa? Ehmm....jauh, underground. Bijaksana? Low. Stress? High!

So, beginilah kawan diriku. Kutilik note-note yang sempat kubuat tahun lalu. Terpampang jelas "AKU di 2010". Apa kini? Itu semua hanya carikan kertas, sedang aku masih sampai di sini. Terkatung-katung mencari kepastian nasibku. So? sudah layakkah aku disebut manusia?

Begitu banyak yang ingin kutemukan suatu hari, tapi belum kutemui hari ini, kawan. Katakanlah, belum jadi bagian dari takdir hari ini.

Tapi esok? Kemungkinan pasti ada. Lagipula, siapa yang tahu apa yang terbaik bagiku?
Siapa yang tahu waktu tertepat untukku? Hmm.... Entah sobat, Tuhan mungkin?

Kau benar. Aku sudah 25 tahun. Tapi itu tak begitu penting kurasa.
Setidaknya aku masih hidup hingga kini. Masih sempurna dari ujung kaki hingga rambut.
Masih bisa bertemu dengan banyak orang. Masih bisa tertawa. Masih bisa kuliah. Masih bisa mengeluh disini. Masih bisa...masih bisa, kawan.

Aku mungkin memang belum cukup besar dan bermakna.
Tapi, sesungguhnya, apakah arti besar dan bermakna itu sendiri? Katakan, apa standarnya?
Saat kutanya itu pada diriku, aku makin binggung. Lalu aku teringat kata seorang kawan baik, bahwa segala sesuatu dimulai dari pikiran. Yakkk...dan mungkin ia benar.

Selasa, 10 November 2009

Kopi itu Pahit...


Saya bukannya akan bercerita tentang bagaimana caranya membuat kopi yang enak. Saya juga tidak akan membahas, bagaimana sebenarnya rasanya kopi. Saya pikir, anda semua sudah tahu bahwa rasanya kopi ya…pahit. Bahkan orang yang tidak pernah minum kopi pun mungkin tahu, bahwa yang namanya kopi pasti pahit, meskipun mungkin ada orang2 pecandu kopi yang akan bilang rasanya kopi itu enak, meskipun belum dicampur gula, dst…

Well, belajar lagi dari pengalaman minum kopi. Bahwa pada dasarnya rasa kopi itu pahit, tapi bisa jadi enak dan bisa bikin kecanduan justru dari rasa pahitnya yang khas. Malah kalo tidak pahit, tidak khas enaknya. Kok pahit jadi enak ya? Tentu rasa kopi yang pahit tidak akan enak kalo hanya diseduh pakai air tanpa gula, atau cream, atau susu. Tapi kalo membuat kopi hanya pakai gula, tambah cream atau susu, tak bisa juga disebut kopi. Justru harus ada bubuk pahit hitam pekat yang baunya harum banget itu yang bikin itu layak disebut kopi (jadi kepanjangan cerita bikin kopinya….^_^)

Tidak ada bedanya dengan hidup. Tidak semua orang dikasih hidup yang lurus, enak dan mudah sama yang di Atas (kita analogikan dengan kata manis). Ada orang2 yang justru hidupnya susah, harus usaha keras, harus banting tulang, penuh keruetan, dan tidak lurus-lurus saja (pahit, seperti rasanya kopi bukan?). Tapi justru itulah seninya hidup yang dibuat Tuhan. Makanya saya tidak setuju abis sama lagunya Nidji dalam ost nya Laskar pelangi “Meski hidup kadang tak adil…”. Menurut saya, justru karena Tuhan sangat adil, makanya jalan hidup kita berbeda2. Bisa dibanyangkan kalo jalan hidup kita sama, sama2 manis semua? Pasti dunia ini bakalan datar, tak ada seninya.

Merekayasa Hidup itu sama dengan membuat kopi. Kadang ada bagian2 hidup yang terasa sukar untuk dijalani, tapi mengapa tak kita coba untuk membuatnya seperti kopi saja? Bukankah awalnya rasa kopi juga pahit. Mengapa kita tak coba menambahkan gula, cream, mocha, atau susu agar rasanya enak? Ya, tenyata selama ini yang salah itu cara seseorang memandang hidup, setidaknya itulah yang saya pelajari baru-baru ini. Meskipun mungkin kita tidak bisa membuat secangkir susu yang rasanya memang sudah manis sejak awal, but at least, kita bisa membuat secangkir kopi yang manis, yang bau harumnya membuat orang berselera untuk mencicipinya.So, let coffee up your life.

Kamis, 18 Juni 2009

KESULITAN? ATASI SEKARANG JUGA !


Di sebuah ladang terdapat sebongkah batu yang amat besar. Dan seorang petani
tua selama bertahun-tahun membajak tanah yang ada di sekeliling batu besar
itu. Sudah cukup banyak mata bajak yang pecah gara-gara membajak di sekitar
batu itu. Padi-padi yang ditanam di sekitar batu itu pun tumbuh tidak baik.

Hari ini mata bajaknya pecah kagi. Ia lalu memikirkan bahwa semua kesulitan
yang dialaminya disebabkan oleh batu besar ini. Lalu ia memutuskan untuk
melakukan sesuatu pada batu itu.

Lalu ia mengambil linggis dan mulai menggali lubang di bawah batu. Betapa
terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa batu itu hanya setebal sekitar 6
inchi saja. Sebenarnya batu itu bisa dengan mudah dipecahkan dengan palu
biasa. Kemudian ia menghancurkan batu itu sambil tersenyum gembira.
Ia teringat bahwa semua kesulitan yang di alaminya selama bertahun-tahun
oleh batu itu ternyata bisa diatasinya dengan mudah dan cepat.

Renungan:
Pepatah mengatakan, semakin jauh kita meletakkan benda dari cahaya,
semakin besar bayangannya di dinding. Kita sering ditakuti oleh bayangan
seolah permasalahan yang kita hadapi tampak besar, padahal ketika
kita mau melakukan sesuatu, persoalan itu mudah sekali diatasi.
Maka, atasi persoalan anda sekarang.

takeb from Brian Cavanaugh, T.O.R., The Sower's Seeds

Rabu, 17 Juni 2009

DOA SANG JUARA


Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil
balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak
final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil

mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah
peraturannya.

Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk
dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark lah
yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu
untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana
dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan
mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu
semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap

anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka
kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4
"pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur
terpisah diantaranya.

Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba
dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya
terpejam, dengan tangan tang bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit
kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap!".

Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai
mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat.

Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya
masing-masing. "Ayo..ayo... cepat..cepat, maju..maju", begitu teriak
mereka. Ahha...sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun
telah terlambai. Dan, Mark lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu
juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. "Terima
kasih."

Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum
piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. "Hai jagoan, kamu pasti
tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?". Mark terdiam.
"Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata Mark.

Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan
untuk menolongmu mengalahkan orang lain. "Aku, hanya bermohon pada
Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah." Semua hadirin terdiam
mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan
yang memenuhi ruangan.


***

Teman, anak-anak, tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita
semua. Mark, tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap
ujian. Mark, tak memohon Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap
hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan
semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang
lainnya. Namun, Mark, bermohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat
menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau
menyadari kekurangan dengan rasa bangga.

Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan utuk berdoa pada Tuhan
untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita
meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik,
menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada
Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan
mata. Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya,
tuntunan-Nya, dan panduan-Nya?

Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering
lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah
semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Tuhan memberikan
kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah
menyerah. Sesungguhnya, Tuhan sedang menguji setiap hamba-Nya yang
shaleh.

Jadi, teman, berdoalah agar kita selalu tegar dalam setiap ujian.
Berdoalah agar kita selalu dalam lindungan-Nya saat menghadapi itu
semua. AminJustify Full