RSS
Tampilkan postingan dengan label Catatan Kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Kecil. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Maret 2010

Ramah

Beberapa waktu lalu sempat terkaget-kaget mendapati diri saya “dinobatkan” sebagai senior teramah dalam momentum acara puncak HUT Asrama yang saya tempati. Sebelumnya memang ada poling asrama putri dan putra untuk beberapa nominasi yang telah dibuat. Namun, malam itu sungguh membuat sedikit terkejut. Senang iya, namun lebih dari itu membuat saya introspeksi diri, akan eksistensi diri saya di tengah-tengah orang yang saya cintai. Benarkah saya selama ini sudah sedemikan ramah? Ehm… lebih tepatnya, benarkah saya telah membuat orang-orang di sekitar saya merasa aman dari kata-kata yang keluar dan tindakan saya? Saya mencoba mengaca diri kembali. Bagaimanapun selama ini saya masih merasa sangat egois. Ketika sedang tak enak hati, seringkali orang-orang di sekeliling saya mendapati saya cemberut, tidak menyapa, tidak berwajah ceria atau paling tidak diam, seakan masalah saya paling besar, seakan saya paling stress, seakan saya paling layak tidak menyapa karena saya senior. Begitukah? Ehm….Sungguh saya malu pada diri sendiri saat mendapatkan award senior teramah itu. Lalu bagaimana di luar sana? Saya juga merasa sering sungkan menyapa duluan orang yang saya temui. Malah terasa lidah sangat berat menyapa orang-orang yang tidak saya kenal dalam antrian, masjid, bus kota, rumah makan, atau tempat umum lainnya.


Masya Allah… Saya masih juga sombong ya? Makanya sempat malu dan grogi sendiri saat suatu hari harus memberikan meteri soal senyum, salam dan sapa dalam suatu moment siaran. Duh…diri ini saja masih sombong pada sesama…Padahal apa susahnya menarik bibir 2 cm ke kiri dan ke kanan demi membentuk sebuah senyum tulus. Apa salahnya memberi sepotong kata “Assalamuailaikum” pada orang-orang yang saya temui, juga tak susah menyapa dengan sedikit berbasa-basi pada orang yang baru ditemui. Apa susahnya.?Bukankah setiap orang senang disapa, diberikan sepotong senyuman, dan didoakan dengan assalamualaikum?”…


Sungguh harus tertegun membaca bukunya Dakwah Fardhiyah Hassan Al-Banna. Saking ingin berkenalan dengan seseorang dalam bus kota, belio rela ‘berpura-pura’ menginjak kaki orang yang ingin dikenal dengan maksud basa-basi untuk memulai pembicaraan lebih lanjut.

Saya jadi teringat pada tulisan seorang teman. Belio berkata, apa sih susahnya me-like status seseorang di face book? (thanks dini…) Saya sepakat! Bukankah memberikan tanda like itu, hanya persoalan menekan tombol klik pada mouse? Dan rasanya itu sangat tidak sulit. Bahkan memberikan sedikit kata-kata komentar pun tidak sulit, cukup memberikan sepatah dua patah kata saja, dan sahabat kita akan senang…


So, alangkah menyenangkan bila kita bisa ramah pada semua orang. Semua orang suka pada orang ramah dan membuka diri. Secantik dan seganteng apapun wajah seseorang, kalau terlihat sangar dan cemberut pasti tidak sedap dipandang. Kuncinya, harus berani memulai duluan, dan jangan takut bila dicuekin. Bukankah telah dikatakan, bahwa rezeki seseorang akan panjang dengan silaturrahim. Siapa tahu, saat kita menyapa seseorang yang baru kita kenal, dan saat itu ternyata dia butuh seseorang untuk dipekerjakan, eh…. kita malah dikasih kerjaan, ya gak? He he he…:] Wallahualam bis shawab..

Selasa, 02 Maret 2010

Menyesal bertemu orang baik


Pernahkah menyesal bertemu seseorang? Mungkin pernah. Tapi pasti dia bukan orang baik, atau ia pernah membuatmu sakit hati. Tapi pernahkah kau menyesal bertemu dengan orang yang sangat baik? Aneh, tapi aku (pernah) menyesalinya.

Kenapa? Pasti semua orang akan bertanya demikian? Bukankah bertemu dgn orang baik akan membawa kebaikan juga bagimu? atau bukankah orang baik tidak akan menyakiti hatimu?
Aneh...

Ya, demikianlah adanya. Aku pernah mengucapkan "menyesal" bertemu orang baik. Kenapa? alasannya satu, karena ia terlalu baik. Kebaikannya itu membuatku sangat "tidak nyaman". Malah aku sempat berpikir "seandainya dia tidak terlalu baik..., maka...."

Tetapi aku baru saja tahu, bahwa tenyata ada saat2 dimana kebaikan seseorang tidak sinergi dengan keadaan yang ada, yang mengharuskan untuk berpikir 'tidak logis'. Keadaan itu, di mana antara realita dan keinginan tidak dapat bertemu pada satu titik yang sama.
Ya....mungkin di saat itu kau akan mengatakan menyesal bertemu orang yang sangat baik...
Karena kau tak sebaik dirinya....


buat seorang teman yang selalu sangat baik, maaf buat semuanya
...

Jumat, 05 Februari 2010

Mencari dan Menemukan

Hidup kadang membawa kita pada satu tempat yang tak kita ketahui. Setiap saat kita melangkah dan terus melangkah, meski kadang sebenarnya kita tak tahu hendak menuju kemanakah kita dan apakah di sana benar-benar ada suatu tempat pemberhentiaan terakhir kita.

Manusia memang tidak pernah puas. Saat kita berjalan dan menemukan sesuatu, tidak lantas membuat kita berhenti. Malah kita terus berjalan mencari sesuatu yang lain, begitu seterusnya hingga ajal datang menghentikan ritme perjalanan kita

Hidup dan perjalanan. Apa bedanya? Dalam hidup kita bertemu dengan banyak orang. Ada yang menawarkan kebaikan, bantuan, ketulusan, juga cinta. Tapi seperti perjalanan, pada suatu saat kita harus meninggalkan mereka atau mereka yang pergi meniggalkan kita demi melanjutkan sebuah perjalanan mencari kebahagiaan di ujung jalan sana. Lalu, di tengah perjalanan, kita kembali bertemu dengan seseorang atau banyak orang. Kita berbicara, bercerita, saling membantu, namun seperti sedia kala, mereka harus kita tinggalkan.

Begitulah hidup. Serupa perjalanan. Kita mecari banyak hal, dan terus mencari seolah belum bertemu dengan yang benar-benar kita inginkan hingga bisa membuat kita bahagia. Kita berkata pada diri kita, saya akan merasa bahagia jika saya lulus kuliah. Setelah lulus kuliah, kita akan mengatakan kembali, saya akan bahagia bila mendapatkan pekerjaan yang layak. Setelah bekerja kita kembali berkata pada diri sendiri, saya akan bahagia bila saya mendapatkan posisi penting di kantor, dan begitu seterusnya hingga kita tua dan ajal menjemput kita. Padahal kadang kita tak tahu apa yang benar-benar kita inginkan dalam hidup. Apakah yang benar-benar ingin kita temukan itu adalah kebahagiaan? Atau dengan mencari dan terus mencari itu memiliki kebahagiaan tersendiri?

Ya, mungkin benar, bahwa “LIFE IS A JOURNEY NOT A DESTINATION”, hidup adalah rangkaian perjalanan dan bukan tujuan. Kita akan bahagia justru dengan mencari dan terus mencari, walau kadang kita sendiri tak tahu apa yang benar-benar ingin kita temukan. Justru, dengan sifat tidak pernah puas itu, kita akan kembali mencari. Dan mencari akan membuat kita dinamis, mobile dan produktif. Apapun yang kita temukan nanti di perjalanan hidup kita, pastilah itu semua sudah tertulis dalam GBHN (Garis-garis Besar Haluan Nasib). Tapi sekali lagi, kita tak akan tahu tahu itu nasib yang tertulis dalam takdir atau bukan bila kita belum berusaha.

Subhanallah, maha suci Tuhan yang menciptakan manusia dengan rasa tidak pernah puas dan betapa beruntungnya orang-orang yang tidak pernah puas itu. Walau pada hakikatya akhir dari pencarian kita adalah bertemu dengan-Nya. Dan itu adalah sebenar-benarnya tujuan akhir kita.
Selamat mencari dan menemukan, kawan….

Sebuah perenungan di akhir January 2010.

Kamis, 21 Januari 2010

Mengapa Aku Menulis

Waktu selalu menciptakan jarak dan objektifitas tentang apa yang sudah kulewati dalam hidup. Setelah menulis banyak cerita di buku harian dan blog ini, aku baru teringat bahwa aku punya hidup. Dan aku telah melakoni banyak adegan hidup ini.

Sejak dulu, aku terbiasa mencatat setiap kejadian mengesankan, membahagiakan, mengharukan, dan memedihkan dalam hidup ini.. Sekarang, saat aku kesal, benci, marah, tidak puas, pesimis, negatif, aku akan mengambil buku untuk menuliskannya.Aku mengakui, bahwa semua itu hanya perasaan, dan perasaan bisa berubah. Aku juga tahu itu adalah energi yang ingin menemukan tempatnya.

Aku mulai menulis dari kebahagian dan kepedihan setiap hari, yang pada akhirnya akan menghadirkan kecintaan pada hidupku yang kecil dan sering kehilangan arah ini. MePost Optionsngapa aku menulis? Ya, karena aku lebih memilih menutup mulut dari pada mengumbar egoku untuk bercerita pada mereka. Aku menulis, untuk menyembunyikan ego sejatiku, bahwa aku ingin keabadian, aku ingin orang-orang yang kucintai berada bersamaku selamanya. Aku benci kesementaraan kita, aku benci berlalunya waktu. Di tepi kebahagiaan yang kumiliki kini, ada duka yang merayap, bahwa semua ini akan berlalu.

Aku menulis karena aku bersyukur memiliki pikiran, perasaan, kedua tangan, lengkap dengan jari jemarinya. Selainnya, aku adalah orang yang mudah terkagum-kagum pada Alam ciptaan-Nya. Mungkin, banyak yang tak tahu rasa indahnya berada di bawah senja yang tiba-tiba datang, perak dilangit-langit, gemuruhnya hujan, dan harumnya rumput di pagi hari.

Aku menulis karena aku sendirian dan berjalan di dunia sendirian. Hidupku adalah milikku, dan tak seorang pun tahu apa yang telah aku lalui, dan lebih mengherankan lagi, kadang aku pun tak tahu. Aku hanya menulis, karena kadang aku hilang kekuatan untuk bertahan. Aku menulis karena aku gila pada ajaibnya kehidupan ini, dan kurasa aku harus melakukan sesuatu selain membuangnya ke tempat sampah.

Aku menulis karena ada cerita-cerita yang dilupakan orang untuk diceritakan. Karena aku seorang perempuan yang kerap dipandang lemah oleh mereka yang bernama laki-laki. Aku menulis karena aku menyukai kata-kata. Teramat menyukai puisi, juga harumnya kertas.

Aku menulis karena aku mencoba menjadi lebih hidup, menemukan jarak di ruang kecilku sendiri, mendorongnya keluar dan memberinya warna dan bentuk. Aku menulis karena aku terlalu miskin untuk membuat dunia khayalku menjadi nyata, dan menulis mungkin adalah satu-satunya yang kumiliki.

Aku menulis karena aku kadang tak mengerti apa yang benar-benar kurasakan.
Aku menulis karena rasa bahagia yang Tuhan berikan. Aku menulis karena rasa pedih yang tak bisa kusampaikan dan bagaimana membuat rasa itu diterima; bagaimana membuat diriku kuat dan kembali pulang, menemukan jalan terbaikku. Aku menulis karena aku punya hati dan itu mungkin satu-satunya rumah sejati yang pernah benar-benar kumuliki.

Pada akhirnya, aku menulis karena aku ingin merekam semuanya selagi aku masih muda dan masih bisa mengingat semuanya dengan benar. Dan aku ingin aku punya sesuatu yang bisa kuceritakan saat aku tua nanti.

Minggu, 17 Januari 2010

Esai Kesendirian


Menulis lagi.
Dalam lembar-lembar kosong,
hati yang tak pasti,
pikiran yang kusut
dan ketiadaan rasa.

Beberapa hari ini, aku memustuskan aku perlu sendirian. Meski sebenarnya ketakutan terbesar dlm hidupku adalah kesendirian. Tapi, ketakutan terbesar itulah yang harus kutaklukkan demi sesuatu yang aku sebut impian hidup. Makanya, saat ini aku memberanikan diri untuk berhadapan dengan kesendirian, walau pada akhirnya, aku akan merasa sangat kesepian.

Kesepian. Apalagi makhluk yang satu ini. Bicara tentangnya sama saja bicara tentang kengerian dan kepekatan malam. Tapi, untuk saat ini, ia juga adalah teman. Padanya, aku bertanya apa yang akan kulakukan dan apa yang harus kuyakini. Dengannya, semua ide cerita hidup dan mengalir seperti air yang menemukan muaranya.

Aku mencintai kesendirian itu. Aku mencari-carinya bila ia pergi jauh. Aku nyaman menghabiskan waktu sendirian. Kemana saja. Ke kampus, ke mall mencari buku-buku favorit, ke tepian sungai, kemana saja.

Aku juga sadar, bahwa hidup tak harus sendirian. Tapi, paling tidak, beberapa hari ini, izinkan aku sendrian. Aku ingin berpikir, ingin merenung, ingin larut sejenak dalam imajinasiku sendiri, dan ingin terbang bersama kesedihan. Tak perlu semua orang tahu bahwa kali ini aku sedang rapuh. Hingga tak perlu membenani mereka dengan membuat status betapa sedih dan melankolisnya aku saat ini di status pertemanan atau bercerita panjang lebar sambil terisak-isak. Tak perlu!. Lukaku, milikku sendiri. Biarlah yang tertulis di sana kata-kata yang akan membuat inspirasi buat orang-orang di sekelilingku, atau paling tidak kata-kata yang mengajak diri ini untuk bersemangat. Walau kadang kita harus mengatakan apa yang sebenarnya tidak kita rasakan, atau sebaliknya tidak mengatakan apa yang kita rasakan.
Entahlah...

Minggu, 10 Januari 2010

Lagi, Kuminta Ia Menguatkan.


Begitu banyak hal tak terduga yang terjadi dan akan terjadi di kemudian hari. Kadang membuat bahagia, kadang membuat sedih, kadang terkejut dan kadang datar2 saja. Tapi, ada satu hal yang selalu kuminta pada-Nya, kuatkan aku menghadapi semuanya dengan hati yang lapang. Aku ingin ikhlas, ingin bisa tersenyum menghadapi semuanya, walaupun hati sebenarnya lebih ingin menangis, walaupun pikiran memaksa untukku menyerah, walaupun aku kehabisan kata2 untuk menegarkan diri.

Aku bukan anak kecil. Yang apapun keinginannya harus selalu dikabulkan. Aku bukan anak kecil yang harus menyikapi ketiadaan dengan menangis sejadi-jadinya. Aku manusia dewasa. Meskipun kadang juga butuh setetes dua tetes air mata. Dan kurasa, semua manusia membutuhkan air mata, apakah kecil atau dewasa. Bukan semata2 ingin meneggelamkan diri dengan melankolisme, hanya sebuah ungkapan perasaan atas ketidakberdayaan dan kelemahan sebagai manusia untuk kembali menyerahkan urusan pada-Nya.

Rabu, 06 Januari 2010

20 Tahun-an Identik Dengan Menikahkah?

Sewaktu masih di semester2 awal kuliah dan masih berumur belasan tahun dulu, saya berpikir jika usia seseorang sudah memasuki usia 20 tahun-an, itu adalah umur yang sangat dewasa, jika tidak boleh dibilang tua. Tapi, saat saya menjadi bagian dari orang2 yang berumur 20 tahun-an, kok saya sendiri mikirnya berubah. Saya merasa, umur segitu belum layak dibilang “tua” walaupun katanya usia seorang perempuan yang baik untuk menikah itu ya di bawah 25-an. Lho…kok jadi ngomongin nikah ya? He he…
Iya, bukan apa2. Karena saat umur sudah akan menginjak 25 ini, semua orang pada sibuk “nyuruh nikah”.Gak temen2 kampus, gak temen2 seasrama, gak murobbi, semua pada ngomongin nikah. Materi2 tentang pernikahan dan kerumah tanggaan juga gak ketinggalan. Apakah usia 20-an ini adalah usia buat melihat lebih jauh tentang pernikahan? (Ha ha ha… sebenarnya saya sangat kikuk tapi juga pengen tertawa terbahak2 kalo udah ngomongin topic yang satu ini). Dengan sadis dan tidak berperasaannya mereka bilang “Udah tua kak, nanti gak laku”, duh…kesian deh saya. Hiks… T_T.

Padahal, sejujurnya saya sangat menikmati kehidupan saya saat ini. Saat saya bebas berexpresi dan lebih berani menghadapi kenyataan yang terjadi (Sombong euy…) Wuih…kalo dibandingin saya yg dulu, saya mah bedanya jauh… dulu saat sekolah dan awal2 kuliah, saya terkenal pendiam bangets, kutu buku, saklek, dll, dll (sori, musti disensor, coz bukan konsumsi public, hehe..). Sekarang? Masih juga dikit2, tapi gak kutu buku lagi. Kalo baca buku paling suka loncat ke bagian menariknya aja, jd gak pernah hatam tuh 1 buku, terkecuali novel. Eits, kok jadi cerita biography saya sih. Maaf… maaf….

Kembali ke topic sebelumnya. “Kira2 usia 24an atau 25an itu tua gak sih?”, itu yang sering saya tanyakan dalam hati. Tapi, terlepas tua atau muda, yang pentingkan saya ngerasanya saya muda (ngotot bangets kan?…). Makanya, saat MR ngasih formulir nikah, saya mikirnya lama bangets dan akhirnya sampe sekarang blm dikasih tuh ke MR. Bukan kenapa2, sebenarnya saya setuju2 saja sama perjodohan model begituan. Prosesnya lebih terjaga dan terbukti sakinah, mawaddah wa rahmah. Tapi, sejujurnya, dari hati saya yang paling dalam (ceile..)- saya gak siap dijodohkan. Kok? Gak tau deh. Mungkin, kalo harus memilih, saya akan memilih orang yang saya kenal, minimal pernah berinteraksi dengannya. Karena saya takut salah memilih, saya takut terkejut dg perbedaan karakter, dll lah. Keterkejutan karena perbedaan karakter sama orang yang sudah dikenal itu juga pasti ada, tapi minimal gak terkejut2 amat. Karena bagi saya, kesamaan pandangan hidup, kesamaan cita-cita dan tujuan, kesamaan selera, kesamaan cara berpikir itu juga penting adanya. Meski mungkin gak ada orang yang persis sama karakternya di dunia ini, ya…paling gak mendekati gitu. Dan gara2 ini nih saya sering dibilang standar tinggi. Padahal, biasa aja kali.

Ya…jd panjang lebar deh. Pokoknya, apapun itu. Saya maunya diatur aja sama Yang di Atas. Bukankah jodoh seseorang sudah ditetapkan sebelum ia lahir?. Saya juga mendoakan, semoga teman2 saya yang dulunya satu kampus, juga satu asrama, satu organisasi, yang juga udah pada 24 dan 25-an segera menemukan soulmatenya. Amin… bukankah kalo kita mendoakan seseorang, malaikat juga akan mendoakan buat yang berdoa. He he he… Bayangin kalo didoakan malaikat rame2, kira2 persentase untuk dikabulkan kan lebih besar ya. He he… ini rahasia teknik berdoa yang saya kasih ke temen2 semua. Semoga dikabulkan ya… amin, sekali lagi. :)

Senin, 04 Januari 2010

Berdoa Dengan Realistis

Saya ingin kembali mereview cerita masa kecil dulu, saat saya baru mengenal kata Tuhan. Walau waktu belajar sholat saya hanya bisa baca Al-Fatihah, tapi saya ingat betul bahwa kalau lagi berdoa setelah sholat, saya khusyuk bukan main, dan yakin bener bahwa Tuhan akan mengabulkan doa saya. Padahal waktu itu saya belum begitu paham akan eksistensi Tuhan. Yang saya tahu, Tuhan itu ada, dan saya dapat meminta apa saja pada-Nya, karena kata ibu saya, Tuhan itu punya segalanya dan Maha Kaya. Terbayang di otak saya waktu itu Tuhan itu seperti Tukang sihir yang punya harta melimpah (Ups, Tuhan = Tukang sihir ??????) yang bisa menciptakan dan mengabulkan apa saja permintaan manusia hanya dengan “sim salabim.” Sampai pada suatu saat permohonan saya terkabul. Nah, pikiran saya waktu itu beneran Tuhan itu hebat, buktinya doa saya dikabulkan walau saya gak pernah usaha maksimal. he… he….

Trus, waktu SMP, SMA saya juga sering berdoa untuk banyak hal yang baik2 buat saya. Diantaranya saya pernah berdoa untuk jadi juara kelas (paling gak 1o besar ), menang dalam setiap lomba2 yang diadakan di sekolah atau antar sekolah, dan masih banyak lagi. Tuhan pun jarang tak mengabulkan doa saya. Walau pernah juga Tuhan tak mengabulkan doa saya dan saya tentu saja bersedih.

Sekarang… saya baru sadar, ternyata ada yang salah dari cara berdoa saya waktu itu. Biasanya saya doanya saya gini Tuhan “Allah, saya mohon, jadikan saya juara kelas, atau saya mohon saya ingin menang dalam lomba ini, itu…” Saklek bangets! Maunya saya saklek, saya mintanya maksa. Padahal saya gak mikir, dengan doa seperti itu bukannya banyak orang yang akan saya “singkirkan?” kalo saya beneran juara kelas, berarti yang lain akan berada di posisi bawah donk? Kalo saya menang lomba apa gitu, yang lain akan kalah donk? Itu artinya doa saya sudah menzolimi orang lain. Lalu, saat Tuhan malah ngasih saya posisi gak “bergengsi” saya malah kalut bukan main, ternyata… Betapa gak enaknya menjadi seseorang yang berada di posisi kekalahan…padahal saya sering tanpa sengaja mendoakan orang berada di posisi itu…

Karena saya sudah sadar, sekarang saya gak mau minta sesaklek itu sama Tuhan. Kalo saya mau sesuatu saya gak mau maksa. Saya hanya akan bilang “Kalo itu yang terbaik buat saya… “ atau “Kalo usaha saya sudah Kau nilai cukup maksimal…, maka berikan hasilnya sebesar usaha saya…”. Berdoa juga harus realistis. Gak realistis bukan, kalo kita mintanya banyak dan baik2, tapi usaha kita gak sebanding dengan keinginan kita. Well, itu pelajaran baru bagi saya saat ini. Mungkin kita ingin selalu yang terbaik menurut versinya kita, buat Tuhan? Belum tentu, tapi saya percaya terbaik versinya Tuhan, gak selalu berada di posisi atas, gak harus selalu menjadi pemenang, gak harus nomer satu. Atau mungkin belum saatnya doa kita dikabulkan saat ini juga, tapi Tuhan menuggu saat yang tepat untuk mengabulkannya. Masih ingat katanya Arai di Novelnya Andrea Hirata seri Sang Pemimpi ‘Tetralogi Laskar pelangi ‘ ? “Tuhan tahu, tapi menunggu…”

Selamat Datang dan Selamat Tinggal

Ada banyak peristiwa yang membuat kita bertemu banyak orang. Pertemuan itu adalah kesempatan. Dan tidak ada satu pertemuan pun yang tidak disengaja. Semua pasti sudah tertulis dalam takdir manusia, dan menyiratkan maksud tertentu. Seperti kata orang bijak “semua pasti ada hikmahnya...”

Kita mungkin akan belajar banyak hal dari orang2 yang kita temui setiap hari. Siapa saja. Karena manusia satu sama lain itu unik. Ada yang mengajari kita kesabaran, ada yang mengajari kita kesederhanaan, ada yang mengajari kita ketulusan, ada yang mengajari kita optimisme, dan masih banyak lagi. Tapi kita tidak pernah tahu, siapakah dari mereka yang akan masuk lebih dalam di kehidupan kita, mungkin juga hati kita.

Seseorang mungkin akan masuk lebih jauh di kehidupan kita. Kita bersamanya setiap hari. Makan bersamanya, berjalan bersamanya, ngobrol dengannya, pendek kata beraktivitas bersamanya. Tapi itu bukan jaminan dia adalah seseorang yang masuk ke dalam hati kita. Bisa jadi seseorang yang menyentuh hati kita malah seseorang yang tidak selalu bersama kita, bahkan hanya sesekali kita temui, tapi ia membuat kita terkesan dan membuat kita memilih menyimpannya lebih jauh ke dalam hati.

Begitu banyak orang2 istimewa di luar sana. Tapi masalahnya tidak semua orang2 yang istimewa itu akan menjadi istimewa pula di hati kita. Seperti kata seseorang penulis, bertemu dengan banyak orang itu kesempatan, tapi mencintainya adalah pilihan. Begitu mudah kita mengucapkan “Welcome” pada siapa saja yang kita temui. Tapi begitu hati telah memilih seseorang untuk dicintai, kita merasa sulit mengucapkan “Good bye” saat harus melepasnya pergi.

Ketika kita mengatakan “Selamat datang” pada seseorang, kita akan mengatakannya sambil tersenyum. Namun saat kita mengucapkan “Selamat tinggal” kita hanya akan menangis dan terluka dalam. Meskipun demikian, kepergian juga mengajarkan banyak hal. Walau sejujurnya hati kita lebih menginginkan mereka tetap ada dan bersama kita hingga akhir kehidupan.

Itulah kehidupan. Datang dan pergi, tawa dan tangis, selamat datang dan selamat tinggal. Ya, tidak ada yang abadi...... tapi saya percaya, ketika kita melepaskan seseorang yang istimewa, kita pasti akan dipertemukan dengan banyak orang istimewa lainnya.....
So, there will be no more crying.

For my best friends in “Bro”. Finally, I let u go…

Jumat, 11 Desember 2009

Apa Salahnya Menangis

Seorang teman laki2 pernah bertanya pada saya : “Apa wajar laki2 menangis? Dan apa kamu gak malu kalo punya teman laki2 yg ‘suka’ nangis?”


Menangis? Satu kata itu agaknya dekat dengan kaum wanita memang. Tapi kalo laki2 menangis lucukah? Oww.... sama sekali tidak. Apa salahnya menangis, jika memang dengan menangis itu manusia menjadi sadar. Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya, saat tiada lagi yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah. Untuk kesadaran yang membawa pada kebaikan, why not? Bukankah kondisi hati manusia tiada pernah stabil. Toh menurut saya, itulah manfaatnya Tuhan menciptakan air mata. Bukankah segala sesuatu diciptakan ada manfaatnya. Kalau tidak digunakan, kan namanya tidak bersyukur.....


Menangis bukan menandakan kita lemah atau cenggeng, hanya cara kita mengekspesikan apa yang ada dalam jiwa kita. Toh, gak jamin orang yang gak nangis akan menyelesaikan masalahnya secara bijak, bisa jadi sebaliknya, saat kita telah menangis dan berniat untuk menyerahkan segala urusan pada-Nya, kita malah akan merasa lebih kuat....


Saya jadi teringat sahabat Rasul yang satu ini. Seorang panglima perang yang lembut hatinya. Siapa lagi kalau bukan Umar ibn Khattab. Pernah suatu ketika beliau melewati rumah seseorang yang sedang membaca Al-Quran. Ketika sampai suatu ayat yg menjelaskan tentang hari pembalasan, beliau lalu berdiam dan berdiri tegak, kemudian mengucurkan air mata sambil tersedu2. Sama halnya dengan Abu Bakar yang sampai2 dijuluki anaknya, Aisyah RA sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu menangis). Subhanallah......


Nah, buat kita yang mungkin jarang menangis atau belum pernah menangis, maka menangislah....ketika membaca Al Qur’an, ketika berdo'a di sepertiga malam, ketika melihat orang2 disekeliling kita yang kurang beruntung, atau tangisilah diri kita karena tidak bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah. Karena menangis akan melembutkan hati dan membuat kita lebih peka. Ingatlah hari ketika manusia banyak menangis dan sedikit tertawa karena dosa-dosa yang diperbuatnya. “......Maka mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS At Taubah: 82).

“Saat belajar tawakkal pada-Nya..”

Rabu, 18 November 2009

Koma dan Titik: Part 2

Tadi malam, aku sempat berpikir sejenak sebelum tidur, sebenarnya hidup itu simple. Hidup adalah representasi dari dua hal saja. Kalau boleh aku mengidentikkannya dengan tanda baca, maka tanda baca yang paling cocok buat mewakili hidup adalah koma dan titik. Koma adalah representasi dari sesuatu yg bisa kita usahakan dan titik adalah represetasi dari apa yang tidak bisa kita usahakan, hanya kita serahkan pada Tuhan.

Hidup ini punya kita. Kitalah sang sutradaranya, kita penulis skenarionya, kita pemainnya dan kita yang akan menentukan endingnya. Itu koma. Tuhan memberikan kita wewenang penuh atas apa yang boleh kita usahakan. Namun kadang hidup itu adalah titik. Kita merasa sudah melakoni peran yang diberikan dengan sebaik2nya, tapi pada akhirnya kita harus tunduk atas apa yang disebut sebagai ketetapan takdir yang sudah IA tuliskan sejak lama skenarionya.


Well, whatever the life is, koma kah dia, atau titik kah dia, aku percaya ini adalah bukti kearifan Tuhan. Kadang kita diberikan harapan, kadang kita hanya disuruh menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Dia Tuhan, kita hanya Manusia. Dia tahu apa yang terbaik dan tidak baik untuk kita.... Wallahualam bis Shawab.

Mati Muda

Mati muda, kalau ada yang bertanya apakah siap mati muda? Mugkin hanya sedikit atau bahkan tak ada yang akan menjawab siap. Saya pun begitu. Kalau boleh memilih, saya akan memilih berumur panjang, dan mati saat semua yang saya ingin kerjakan, atau yang ingin saya cita2kan dalam hidup ini tercapai. Saat saya benar siap menyerahkan amal terbaik pada-Nya. Tapi bukannya kematian kita sudah dituliskan? Dan saya sudah sering menyaksikan bagaimana orang2 yang selama ini dekat dan bersama saya, mati dalam usia yang masih muda. Makanya tiap kali akan tidur, saya kadang takut untuk memejamkan mata. Akankah esok masih milik saya, atau kah saya tak dapat membuka mata lagi dan meyaksikan diri saya sendiri yang tidur selama2nya…, kembali ke alam keabadian.

Kematian memang misteri. Kita tidak pernah tau kapan malaikat maut akan datang dan menjemput. Kematian….adalah persoalan ‘hidup’ yang abadi, persoalan rumah masa depan yang akan kita tinggali selama2nya, persoalan bagaimana dan seperti apa kita ingin dikenang oleh orang2 yang kita tinggalkan? Tak peduli, kita tua ataukah muda…

* Mengingatkan pada teman2 yang telah meninggalkan “Fadkhuli Fi I’badi, Fadkhuli Jannati, masukkah ke dalam golongan hamba2Ku, masuklah ke dalam syurgaKu…”

Selasa, 20 Oktober 2009

Koma dan Titik

Koma dan Titik

Simple saja dua kata itu. Makanya blog ini akhirnya berganti menjadi dua tanda baca yang menurut saya paling sering kita pakai untuk menulis. Gak punya alasan yang mendasar sebenarnya. Just wannna enjoy d new blog.

Koma dan titik. Kadang saya merasa hidup kita ya dua kata itu. Kadang titik kadang koma. Untuk filosofinya, may be next time will be told completely. Soalnya sekarang lagi fokus googling hunting bahan skripsi..^_^

Rabu, 14 Oktober 2009

Pulang

Pulang….

Bagiku, pulang adalah langkah untuk memetakan dan memahami apa yang kulakukan hari ini. Termasuk sore kemarin, sore 2 hari yang lalu, juga sore-sore sebelumnya saat aku PULANG dari rutinitas bertemu malaikat-malaikat kecil nan ceria di tempat aku mengajar, murid-muridku yang lucu dan gembira. Rutinitas sore ini sudah lama kujalani. Menyenangkan, karena aku banyak belajar dari mereka tentang optimisme kanak-kanak yang tak perlu kompensasi. Dan jika aku pulang, maka aku merasa sudah menemukan semuanya.

Pulang...

aku pulang untuk menemukan kesejatiaan diri. Memupuk semangat untuk esok pagi. mempersiapkan diri untuk kembali menulis cerita masa depan. Sungguh aku ingin pulang…