RSS

Senin, 27 Juli 2009

Kisah Dua Sandal Jepit


Suatu waktu, saya pernah merasa malu dengan sandal jepit saya. Meskipun nyaman dipakai, ternyata ia sudah butut. Lantas saat pergi ke pasar Flamboyan bersama seorang teman, saya pun hunting sandal jepit baru yang tampangnya lebih kece dan harganya pasti lebih mahal dari harga sandal jepit saya, yang seingat saya hanya dibeli seharga 7.000 rupiah dulu.

Sesampai dirumah, saya pun makin percaya diri dengan sandal jepit baru saya. Enak rasanya melihat kaki tampil ’cantik’ dengan sandal tersebut. Sedang nasib sandal jepit saya yang butut itu sungguh malang, saya memasukkannya ke gudang.

Tiga hari berlalu, ternyata sandal baru itu menyiksa kaki saya. Meskipun kelihatan kece, nyatanya permukaan talinya yang keren membuat kaki saya lecet. Saya pun mudah capek berjalan dengan sandal baru itu.

Sorenya, saya mengeluarkan kembali sandal jepit butut saya dari dalam gudang. Di depan pintu kamar saya pandangi kedua sandal itu lekat-lekat. Saya jadi malu sendiri sama si sandal jepit (aneh juga ya, malu kok sama sandal jepit). Lantas saya tersenyum ”ternyata Allah mengajari saya menerima takdir”.

Itulah kawan, kisah dua sandal jepit itu mengingatkan saya, bahwa apa yang saya anggap baik selama ini, belum tentu baik menurut Allah. Dan apa yang saya anggap jelek, belum tentu jelek di hadapan-Nya. Saya adalah orang yang seringkali mengeluh soal takdir-Nya, padahal IA punya rahasia terindah di balik itu semua... Allah maha tahu, sedang kita tak tahu apa-apa.

Terima kasih sandal jepitku....

Pernahkah kau jatuh cinta?


Aku pernah. Ia adalah seseorang yang rupawan, bahkan beberapa waktu ini ia lebih rupawan. Apalagi ketika ia menjumpaiku di waktu sore dan malam hari, ia semakin mempesona. Sehingga aku kehabisan kata-kata untuk menjelaskannya.

Sehabis penat seharian menjalani hari, aku selalu pergi menemuinya. Dan jika sudah bersamanya, rasanya tak ingin kemana-mana. Berat sekali rasanya untuk berpisah. Ia selalu mengajariku untuk menanam harap setinggi-tingginya, ia menghilangkan beban, membuatku bernafas lega. Ia adalah inspirasi...

Hal ini juga yang aku lakukan ketika aku sedih, gembira, menangis atau tertawa. Aku selalu menyampaikan padanya perihal isi hatiku. Ia adalah pendengar yang baik kawan, tak pernah mengeluh, apalagi marah. Dan aku jatuh cinta padanya.
Maha suci Allah menciptakan makhluk sesempurna dirinya. Maukah kau tahu nama seseorang yang mempesona itu kawan? Nama seseorang itu adalah ...LANGIT

Maha Suci Allah atas ciptaan-Nya....

”Allah menciptakan beban, juga menciptakan pundaknya. Dan Langit adalah salah satu pundak itu”

Tak Ada yang Abadi


Sejak beberapa minggu ini lagu Peterpan ‘Tak Ada Yang Abadi’ selalu menjadi inspirasiku. Sedang berusaha berlapang dada saat ini. Karena segala sesuatu di dunia ini akan pergi, termasuk hidup itu sendiri. Maka saat ini, aku juga sedang mempersiapkan diri menerima kepergian dan kehilangan itu.

Jadi, tiap kali bangun tidur, kuputuskan untuk sungguh-sungguh menikmati hari ini, lantas berusaha menciptakan hari terindah. Hingga suatu saat hari ini layak untuk dikenang....siapa tahu esok hilang ke alam keabadian.



Takkan selamanya tanganku mendekapmu

Takkan selamanya raga ini menjagamu

Seperti alunan detak jantungku

Tak bertahan melawan waktu

Semua keindahan yang memudar

Atau cinta yang telah memudar

Tak ada yang abadi

Tak ada yang abadi

Tak ada yang abadi

Tak ada yang abadi

Biarkan aku bernafas sejenak

Sebelum hilang

Tak kan selamanya tanganku mendekapmu

Tak kan selamanya raga ini menjagamu

Jiwa yang lama segera pergi

Bersiaplah para pengganti

Kamis, 16 Juli 2009

Nikah

Nikah. Satu topic yang membuat saya cukup canggung saat menuliskannya. Tapi karena ini permintaan seorang teman, akhirnya saya memberanikan diri untuk sedikit bicara tentang pernikahan. Kata teman-teman saya ini topic ‘berat’, juga bagi saya. Sekali lagi tulisan ini hanya persepsi seorang ‘saya’ yang masih jauh dari referensi. Maklum, saya ini bukan ustadz, atau orang yang punya kafaah syar’i soal pernikahan dan membangun rumah tangga, apalagi orang yang punya pengalaman pribadi soal ini. So, bagi siapapun yang membaca tuisan ini dan kurang setuju, monggo…untuk memberikan masukan dan meluruskan pemahaman saya ini.

Sejujurnya tema ini sedang hangat-hangatnya di telinga saya. Dan cukup menarik perhatian saya baru-baru ini. Semua memang salah teman-teman saya yang umurnya sudah pada mau 25-an itu. Kalau sudah ‘ngumpul’, tema ini cukup menjadi salah satu tema ‘populer’ diskusi kami. Eit, jangan salah paham dulu… yang menjadi bahan diskusinya insya Allah masih dalam batas koridor yang wajar menurut saya, tidak macam-macam..

Ya gitulah, mungkin memang sudah waktunya bicara soal pernikahan, hitung-hitung sebagai upaya mempersiapkan diri hingga sampai waktunya. Mau tidak mau, karena suatu saat saya dan anda akan menjalaninya juga. Bukankah sesuatu yang dipersiapkan akan lebih sukses dari yang tidak dipersiapkan? Sebenarnya ada sedikit kelucuan dari teman-teman saya yang ‘lugu’ itu saat bicara soal menikah. Mulai dari criteria pendamping hidup, prosesi pernikahan, hingga urusan mengelola rumah tangga (kayak udah pada berpengalaman semua ^_^, padahal…)

Yang paling menarik dari tema ini adalah soal criteria pasangan. Maklum, yang ngomong ini para idealis dan para sarjana atau hampir sarjana, yang keluar pastinya pandangan2 ideal dan perfeksionis pula. Terlepas dari itu semua, saya jadi teringat perkataan seorang ustad: “perempuan itu kalo disodorkan pasangan kalau umurnya masih 20-an komentarnya ‘siapa kamu?’. Nah, kalo udah 25-an ke atas komentarnya ‘siapa sih?’ dan kalau udah 30-an akan menjadi ‘siapa aja’.” Gubrak…!!! Ngeri bener ya. Maksud saya ngeri membayangkan nasib perempuan yang telat nikah karena kesalahannya di masa lalu menetapkan standar yang terlalu tinggi.

Apakah salah menetapkan standar yang tinggi? Tidak, menurut saya. Manuasiawi dan wajar malah. Mengapa tidak boleh menginginkan yang terbaik untuk hidup kita. Apalagi someone ini nantinya akan mendampingi seumur hidup kita. Seumur hidup, bayangkan!. Laki-laki atau ikhwan saya rasa juga begitu. Pastinya criteria calon istri yang diidamkan tentulah perempuan baik2(sholehah), cerdas, pinter masak, bisa ngurus rumah dan ngurus anak, dst, dll, dsb (si laki2/ikhwan pastinya lebih tahu).

Suatu hari teman2 saya nanya, apakah saya juga punya criteria? Soalnya, menurut mereka saya ini yang paling sedikit commentnya kalo udah bicara tentang pernikahan. Jawabannya pasti punya, sama seperti mereka juga anda. Gini2, kita tak ingin sembrono alias sembarangan. Tapi pertanyaan selanjutnya yang mesti dijawab adalah ‘Siapa sih kita?’ ‘hafalan quran kita berapa juz?’, Jika sholeh/sholehah menjadi criteria utama kita, apa yakin kita benar2 baik untuk mendampingi orang yang baik (sholeh)? Apa kita juga ‘on criteria’ atau standarnya kita malah ketinggian padahal kita Cuma ordinary person(baca; orang biasa)..ups,

“Saya ini mahasiswa, jadi nikahnya yang sama mahasiswa juga donk, calon sarjana, yang punya masa depan jelas”, kata teman saya suatu waktu. Teman saya yang lain nyambung “Kalau saya kan orangnya mobile, aktivis, banyak amanah, musti nyari yang mobile dan produktif juga donk…”. Tapi ada satu teman yang bikin saya kagum berat sama belio, dia bilangnya gini :”Saya sih siapa saja boleh, asal yang bisa menjaga saya dan keluarga saya, bisa menuntun saya lebih sholeh, dan saya siap2 aja mau hidup dimanapun dan bagaimanapun”. Walah…saya jadi malu sendiri mendengarnya, soalnya saya ini belum bisa seikhlas itu.

Sekali lagi, saya rasa tidak ada salahnya menentukan standar. Islam juga mengatur hal ini, bahwa sekufu atau kesetaraan dalam memilih pasangan mutlak diperlukan. Namun, jangan sampai ini malah menyulitkan kita sendiri. Ujung2nya telah nikah karena tak kunjung menemukan pasangan ‘on croteria’ itu. Karena kata guru ngaji saya menikah itu adalah menggenapkan separuh agama. Kenapa ‘separuh’ yang diungkapkan, karena diri kita ini memang tak sempurna. Menikah adalah momentum untuk saling melengkapi ketidaksempurnaan tadi. Saling mensupport, saling mengisi untuk lebih produktif, tumbuh dan berkembang bersama-sama istilahnya. Seperti tulisan teman saya di blognya “Cinta ibarat menunggu bus”, jangan sampai deh kita melewatkan bus2 yang kelihatannya kurang nyaman, sesak, panas, hanya untuk menunggu bus2 yang nyaman, sepi penumpang, agar lebih adem, padahal kita tak pernah tahu kapan bus seperti itu akan menjemput kita…

Sekali lagi, tulisan ini persepsi saya pribadi. Yang pastinya, saya ini tidak fakar soal nikah, membina rumah tangga apalagi mengurusi anak… :-). Intinya jauh tidak berpengalaman dari anda semua. Hanya berusaha lebih produktif dengan menulis apa yang menurut saya perlu untuk dituliskan dan dibagi bersama. Selebihnya, seperti yang diajarkan teman saya yang arsitek itu, kita kembalikan pada yang Maha Tahu saja. Wallahualam…



Terinspirasi dari sahabat seperjuangan, ‘bro’ crew, terimakasih banyak atas diskusinya yang membuat saya surprise, kagum, gembira, dan lucu sendiri sendiri… tapi tetap penuh ‘ide’ dan cukup berisi…
katanya Krisdayanti “aku tak mau jadi tuna cinta, ” so, siapa yang mau duluan…???
Teman sehatiku, ukh Vitha, ini persembahanku...jangan diketawain ya...;)

Selasa, 30 Juni 2009

Saya Mulai Percaya itu

”Dalam hidup ini aku hanya diajarkan untuk kehilangan…
Untuk mempertahankan apa yang tidak akan ku miliki…
Untuk mencintai orang yang salah…
Untuk menyayangi orang yang akan pergi…
Dan untuk menghadapi mimpi dalam hidup nyata...”


Sepenggal tulisan diatas milik seorang teman yang saya copy paste dari profile face booknya. Teman yang umurnya mungkin lumayan jauh dari saya. Tapi saya yakin pengalamannya luar biasa hebatnya dan luar biasa banyaknya. Saya tak mengenalnya begitu dekat. Hanya tahu bahwa ia adalah orang yang pertama mengenalkan saya pada dunia broadcasting. Selebihnya, saya hanya mengenalnya sepintas lalu saja.


Tak sengaja juga melihat tulisan di profile face booknya, dan… menarik, pikir saya. Untuk dicerna, untuk diambil pelajaran darinya. Rahasia hati memang hanya Tuhan yang tahu. Saya juga tak tahu bagaimana teman ‘jauh’ saya ini menyimpan rapat rahasia hatinya selama ini, menanggung jerih sendirian untuk memperjuangkan banyak hal, lalu kemudian kembali berlari. Namun, saya ingin belajar dari nya, juga dari siapa saja yang saya temui dan akan saya temui di kemudian hari.

Dalam hidup, saya telah bertemu dengan banyak orang, dengan berbagai karakter, dengan cara berpikir yang beragam. Jika saja boleh memilih, manusiawinya saya ingin bertemu dengan orang yang akan membuat saya bahagia, tertawa terbahak-bahak, dan tak mengenal patah hati dan kecewa, agar saya dapat bergembira bersamanya. Saya juga ingin bertemu dengan orang2 yang bersemangat menghadapi hidup ini. Sehingga saya tak mengenal pesimis dan putus asa. Tapi, tetap saya harus bertemu dengan mereka, orang2 yang bersedih di simpang jalan hidup ini. Menanti hidup agar berujung lebih baik dan Tuhan ‘berbaik hati’ melepaskan semua beban hidup yang sering melelahkan untuk dibawa. Di simpang yang lain, saya juga harus bertemu dengan orang2 yang pesimis, orang-orang yang gagal dan menangisi keadaan. “Hidup itu satu kesatuan yang utuh”, kata seorang teman saya yang lain dalam sebuah e mailnya. Again and again, saya harus bertemu mereka untuk satu kata sederhana ‘belajar’ dari mereka semua, untuk memandang hidup sebagai satu kesatuan yang utuh.

Ya, seperti teman saya ’jauh’ yang saya ceritakan sebelumnya, saya juga demikian adanya. Sering salah terlebih latah dalam mempertahankan apa yang tak akan saya miliki, mencintai orang yang salah, menyayangi yang akan pergi, dan banyak bermimpi padahal hidup yang nyata. ”Ah, kalaulah saya tahu dari dulu bahwa semua hanya akan berujung pada kesia2an, tak akan saya melakukannya,” pikir saya waktu dulu. Tapi kawan, ternyata manis itu baru akan terasa jika pernah mengecap pahit. Dan bahagia itu baru akan kita maknai secara benar, bila kita pernah terluka. Terjatuh akan mengajarkan kita tentang bagaimana berdiri dengan benar. Caranya Tuhan memang unik dan indah kawan.... meski jauh dari apa yang kita harapkan pada awalnya, tapi... akan selalu indah pada akhirnya, saya mulai percaya itu.



”Great thanks to bang Ary for the wise words. Maaaaafff….kalau gak bilang2 mau buat tulisan ini…”

Senin, 29 Juni 2009

UN dan Mutu Pendidikan

Memang ketika berbicara UN (Ujian Nasional) dari tahun ke tahun selalu saja kita dihadapkan pada topik yang usang, yang menjadi perdebatan pun masih tetap sama, perlu tidaknya UN. Dari tahun ke tahun Ujian Nasional selalu menjadi polemic yang tak pernah habis untuk dibicarakan. Jika dilihat-lihat dari berbagai media, hampir tak satupun publikasi yang setuju dengan kebijakan Ujian Nasional saat ini. Hanya saja, pemerintah dalam hal ini yang diwakili oleh Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo, benar-benar keukeh agar UN ini terus berlangsung.

Sekian banyak kontroversi berkenaan dengan UN ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pemerintah tahun ini juga mendapatkan ‘hujan cacian’ dari berbagai pihak. Namun demikian, pemerintah tidak bergeming sedikitpun untuk mengevaluasi efektivitas pelaksanaan UN. Istilahnya, “Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu”. Seolah meledek para pengkritiknya, pemerintah malah menambah mata pelajaran yang harus diujikan plus meningkatkan standar nilai kelulusan yang harus dicapai oleh siswa.

Sebuah pepatah Yunani lama yang berbunyi : “Non schole le sed discimus”, yang apabila diartikan secara bebas bahwa sekolah tujuannya bukan untuk mencari skor atau angka-angka tapi sekolah itu belajar untuk kehidupan bahkan hidup itu sendiri. Sekolah pada masa itu merupakan aktivitas yang menyenangkan bagi siswa tanpa beban mencari skor atau angka-angka dramatis (standar nilai). UN nyatanya telah mengeksploitasi hak-hak anak untuk mengembangkan kreatifitas, talenta, dan kemampuannya sebagai makhluk yang unik antara satu dengan yang lainnya. Anak-anak dipaksa untuk mempelajari sesuatu di luar minat dan kemampuannya.

Cukup banyak kasus UN dilapangan yang seharusnya membuat efek jera bagi pemerintah. Untuk kota Pontianak saja ada dua sekolah swasta untuk SMP yang gagal meluluskan semua siswanya, sedang untuk tingkat Menengah Atas ada 4 sekolah swasta yang siswanya 100 persen tidak lulus. Ironisnya Itu terjadi di kota. Bagaimana dengan sekolah-sekolah pedalaman yang jauh dari akses informasi dan fasilitas yang belum memadai? Akhirnya, kita akan menyaksikan banyak sekolah yang ditinggalkan masyarakat, dan hanya memiliki bebebera belas siswa. Grouping dan mergerpun menjadi satu-satunya solusi jika tidak ingin sekolah yang bersangkutan ditutup.

Namun, melalui berbagai media massa pemerintah melakukan pembelaan diri. Seperti hanya argumen wakil presiden JK dan Abu Rizal Bakri yang sempat terekam dalam sebuah media massa: ”Anak harus dibiasakan kerja keras. Jika diberi tantangan atau dituntut dengan syarat kelulusan yang tinggi dan dinaikkan setiap tahunnya, akan membuat anak belajar”. ”Mutu pendidikan meningkat dari tahun ke tahun, hasil UN 2007/2008 lebih bagus dari tahun sebelumnya, padahal tuntutan angka standar kelulusan lebih tinggi dari tahun sebelumnya”.

Bila kita mau mencermati dengan lebih seksama, argumen yang disampaikan oleh wakil pemerintah tadi sebenarnya tidak dilandasi oleh pengetahuan pedagogis yang memadai. Semestinya argumentasi ini dibarengi dengan pertanyaan lanjutan ”bagaimana anak-anak didik belajar?”. dalam hal ini, yang terjadi sebenarnya bukanlah kegiatan belajar, tetapi kegiatan memeras otak melalui drill soal belaka yang nantinya bakal melahirkan generasi ‘pembeo’. Bagaimana mungkin angka dan jumlah kelulusan menjadi indikator mutu sebuah pendidikan? Jika hal ini yang dimaksud dengan mutu pendidikan Indonesia yang makin baik menurut versi pemerintah, maka dapat dikatakan pendidikan kita betul-betul sedang mengalami kemunduran. Mutu pendidikan tidak bisa hanya diukur dari kemahiran siswa dalam menjawab soal-soal UN melalui pendekatan drill ’menghafal’ soal-soal UN yang sifatnya mengingat sementara, bukan dari pembelajaran yang bermakna. Itu semua hanya generalisasi mutu pendidikan yang dibuat pemerintah. Sementara untuk menentukan kualitas pendidikan hanya dapat dilihat di masa yang akan datang, karena pendidikan itu sendiri merupakan investasi jangka panjang.

Permasalahan lain yang muncul bila UN dianggap sebagai hakim penentu kelulusan adalah diorientasi belajar siswa dan mengajar guru. Bayangan tidak lulus adalah hal yang paling mengerikan, apalagi bagi siswa Sekolah Dasar yang ’jalannya’ masih jauh. Walhasil, banyak siswa yang mengikuti bimbingan UN, kursus mata pelajaran, hingga try out. Bagi yang tidak memiliki uang lebih, cukup mengumpulkan soal-soal UN bekas, kemudian belajar dengan sekeras-kerasnya di rumah. Ironisnya, guru dan sekolah juga sering terjebak pada hal yang sama. Pembelajaran yang bermakna beralih menjadi teaching for test. Anak-anak dipaksa untuk menghafal soal dan jawabannya, yang nantinya hanya akan dilupakan seiring berlalunya UN. Jika boleh dikatakan, sekolah dan lembaga bimbingan belajar berubah menjadi lembaga ‘pembonsaian’ karakter anak didik.


Sejatinya, pendidikan jauh melampaui aspek kognitif (pengetahuan), yaitu aspek attitude (sikap) dan skill (praktik). Jika di dalam UN yang dinilai hanya aspek kognitif saja dengan sistem katrol ’standarisasi’ nilai, maka pendidikan nyatanya kehilangan jati dirinya. Nilai mungkin menjadi salah satu aspek penting yang ikut menentukan baik buruknya pendidikan kita. Hanya saja hendaknya hal itu bukanlah menjadi satu-satunya aspek penilaian kelulusan siswa. Karena semestinya pendidikan merupakan tempat penanaman nilai-nilai yang akan diejawantahkan dalam kehidupan siswa. Tapi, saat ini, yang lahir dari rahim pendidikan justru output yang prematur dan tak jelas orientasinya.

Standarisasi sendiri merupakan suatu bentuk pemahaman yang beranggapan segala sesuatu dapat diukur. Standar nasional pendidikan idealnya diperlukan untuk mengukur kualitas pendidikan secara nasional, pemetaan permasalahan pendidikan secara nasional, sehingga dapat dijadikan dasar dalam menyusun rencana strategis penyelenggaraan pendidikan selanjutnya. Namun saat ini, bila kita lihat bersama kondisi pendidikan kita, banyak aspek-aspek yang belum standar, sehingga standarisasi belum dapat dilaksanakan. Kondisi bangunan sekolah yang berbeda, sarana prasarana yang berbeda, fasilitas yang berbeda, akses informasi yang berbeda, kualitas guru yang berbeda tentu menjadi penghalang untuk serta merta membuat standarisasi melalui UN.

Barometer baik buruknya kualitas pendididikan dapat dilihat langsung oleh pihak yang terjun langsung di dalamnya. Dalam hal ini guru merupakan sosok yang paling memahami kondisi dan capaian-capaian yang diraih oleh semua peserta didik. Gurulah yang berhak melakukan penilaian secara objektif dari setiap capaian siswa dengan ragam metode penilaian. Penilaian seperti ini merupakan penilaian berbasis kelas dengan melihat tiga aspek pembelajaran yaitu kognitif, attitude dan skill. Hasil penilaian gurulah yang akan menentukan lulus tidak lulusnya siswa.

Terkait UN sebagai alat penentu kelulusan, sistem penilaian porto folio juga layak untuk dikaji dan dipertimbangkan sebagai alat penentu kelulusan siswa. Penilaian ini lebih objektif dalam menggambarkan diri peserta didik sebagai siswa dengan kapasitas pribadi yang berbeda-beda dari pada UN. Hal ini tentunya akan memberdayakan guru secara optimal karena guru dituntut untuk bekerja keras agar dapat memberikan penilaian secara objektif. Sebuah logika yang kurang logis, bila selama ini pemerintah ingin memberdayakan guru tapi justru yangdilakukan adalah usaha-usaha pengkerdilan potensi dan hak guru sebagai pendidik.

Dari uraian di atas, efektifitas UN semestinya perlu dievaluasi ulang dan dikaji secara mendalam. Mengingat saat ini banyak permasalahan UN yang terjadi. Mulai dari cacatnya landasan hukum UN hingga dampak penyelenggaraannya di lapangan. Sebagaimana malpraktik kesalahan diagnosis sebuah penyakit yang dilakukan oleh seorang dokter dapat mengakibatkan kematian pasien, kesalahan berfikir dalam menggagas pendidikan nasional juga akan membawa petaka bagi SDM masa depan bangsa ini.


Jumat, 26 Juni 2009

Happiness

KEBAHAGIAAN… You call it Happiness in English…
But actually, have you ever gotten the real happiness? I don’t know. You’ve known d answer. But, don’t ask me about that. I’m trying, still trying to translate that word correctly….in my own way… What about you?

Lelaki itu pergi menjauh… dengan terbata-bata ia kembali mendorong gerobak sampahnya yang terlihat penuh dengan sampah, hasil jerih payahnya mengumpulkan sampah dari satu bak sampah ke bak sampah lainnya. Mungkin ia melakukan ini setiap hari, dari pagi hingga siang seperti saat ini.

Siang ini panas matahari begitu terik. Ku lihat keringat laki-laki itu bercucuran, nampak membasahi baju tipis lusuh yang aku pun tak tahu lagi warnanya, mungkin putih, tapi mungkin juga abu-abu, kumal. Ku yakin, laki-laki yang kini berada di hadapan ku bukanlah laki-laki biasa, yang menghabiskan waktunya dengan santai. Ku lihat postur tubuhnya yang ringkih, hitam khas pekerja keras, penuh dengan keriput di sana sini. Terbayang olehku bagaimana ia berjuang setiap hari, mengais-ngais sampah dari satu tong sampah ke tong sampah lain di jalanan untuk beberapa ribu rupiah, menghidupi keluarganya. Jika tidak, bagaimana mungkin laki-laki yang layaknya disebut kakek itu masih berada di jalanan nan panas seperti ini, bukan bersama keluarga, istri, anak-cucu, sedang bercanda atau makan siang dengan mereka hari ini. Itulah mungkin alasan kenapa aku berada di sini, di sebuah sudut jalan untuk menemuinya setelah sempat putus asa mencarinya, mengitari jalan tempat tadi aku berpapasan dengannya.

Pertemuan yang tak di sengaja memang. Saat aku pulang dari pasar, aku melihatnya dari jauh. Aku takjub. Ku lihat ia dengan sekuat tenaga mendorong gerobak sampahnya yang berat itu menyeberangi jalan yang ku lewati. Entah kenapa, ada yang terasa perih di hati ini. Pemandangan seperti ini memang bukan untuk pertama kali ku saksikan, tapi betapa aku tak berani menuruti kata hatiku. Aku lebih sering membiarkan mereka berlalu. Begitu pun kali ini. Aku membiarkan saja laki-laki pemulung itu berlalu sedang aku kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah. Tapi tak tahu kenapa, ada yang teramat sakit di hati ini, dan aku menangis tiba-tiba saja, aku pun tak tahu mengapa aku menangis. Ku putar kembali motorku. Kembali menyusuri jalan yang sama, jalan di mana aku bertemu dengan kakek pemulung tadi, berharap ia masih di sana.


Lelah aku menyusuri jalan itu, tapi aku tak menemukannya lagi. Aku pun terpaku di pinggir jalan, putus asa. Ku pikir sebaiknya aku pulang saja. Tapi… hei… tunggu dulu, aku kembali menemukan sosok itu sedang berhenti di pinggir jalan seberang. Dia berhenti sebentar mengelap keringatnya lalu kembali mendorong gerobak sampahnya. “Alhamdulillah…”,lirihku. Aku kembali mengejarnya, walau jalan yang kulewati lumayan berputar untuk sampai ke tempat ia berada. Ku lihat ia terkejut saat aku dan kendaraanku parkir di depannya. Aku menyapanya. Aku sempat bingung bagaimana harus menyapanya. Ku lihat ia begitu tergesa-gesa, seperti ingin mengatakan padaku “kenapa berhenti di sini” atau “permisi saya mau lewat”. Tanpa basa basi aku menyodorkan beberapa lembar uang kertas yang sedari tadi ada dalam genggamanku. “Maaf pak, ini buat bapak, diterima ya…”, kataku lirih, sambil takut-takut kalau ia tersinggung dan menolaknya. Aku salah. Ku lihat ia sumringah, tersenyum, memamerkan barisan giginya yang kelihatan hitam sambil menerima uang yang tak seberapa nilainya itu. “Terima kasih mbak…”, balasnya. Tanpa banyak bicara ia pergi meninggalkan aku yang terpaku di pinggir jalan sendirian. Ia menjauh, terbata mendorong gerobaknya. Tapi entahlah, bagaimana harus ku definisikan perasaan ini. Yang ku tahu bahwa aku teramat senang, teramat bahagia hingga aku lupa menanyakan nama bapak pemulung yang baru ku temui itu, juga tak sadar bahwa ada bapak pemilik ruko tempat kami berdiri yang sedari tadi memperhatikan kami.

Ini hanya sedikit kisah “kecil” di perjalanan. Tentang bagaimana kita menterjemahkan kebahagian menurut versi kita masing-masing. Mungkin setiap orang punya defenisi yang berbeda tentang kebahagiaan. Sebagian mendefinisikan kebahagiaan sebagai hidup yang mengalir tanpa hambatan, posisi yang bagus di tempat kerja, financial yang memadai, rumah dan berikut property yang bisa diandalkan, suami/istri yang mencintai, anak-anak yang lucu dan patuh, etc. Mungkin, itu mungkin kebahagiaan. I’m sure everybody loves those.. Tapi entahlah, saya hanya merasa kadang kita terjebak dengan kebahagiaan yang sifatnya materialis. Kita terbiasa mendefinisikan kita bahagia karena kita tak lagi berpusing2 memikirkan bagaimana mengisi perut hari ini… sementara banyak orang disekitar kita yang “tak bahagia” karena urusan perut masih menjadi menu harian yang harus dipikirkan, dan entah kapan berakhir atau mungkin tak pernah berakhir.


Tulisan ini hanya sebuah intermezo dalam perjalanan, tentang bagaimana kita memaknai kebahagiaan kita masing2. Saya yakin setiap orang berhak membuat definisi bahagia itu... tapi yakinlah dengan sedikit rezeki (kebahagiaan) yang kita bagikan untuk orang lain, maka hati kita akan lebih bahagia....

”Di suatu siang yang gerah”

written from one's experience