RSS

Selasa, 13 Mei 2014

Mengenangnya

Dulu, ada seseorang yg teramat sangat mencintai saya. Dia teramat baik, teramat tulus menurut saya. Dia mengorbankan apa yg dia punya buat saya. Dia memberikan apa yg dia bisa buat saya.
Saya selalu mengingatnya. Kebaikannya, ketulusannya, kelembutannya, dan semua kasihnya buat saya.
Kenapa saya tidak bersamanya saat ini? Kenapa saya mengabaikan perasaannya lalu memilih laki2 lain? Menikah tidak dgn nya? Itulah kenyataannya. Saya ternyata blm berjodoh dg nya. Apapun alasan dan sebabnya, hanya tuhan yg tahu. Panjang sekali lika liku saya hingga memutuskan pergi.
Saya tidak mau terikat. Saya tidak mau pacaran. Saya tidak mau mengecewakan. Lalu?
Dia pergi akhirnya. Menyerah. Walau seharusnya dia tidak menyerah saat itu. Atau jika dia trs bertahan di "sisi" saya, mungkin saya akan memilih dia. Apa saya menyesal dia pergi? Jujur iya. Saya sempat sedih, sempat mrs kehilangan, sempat gundah. Tp tetap dgn pilihan saya, menjauh...

Pada akhirnya, hidup menuntun saya bertemu dgn laki2 lain. Saya menikah, punya anak, punya kehidupan sendiri.
Dia? Jg menikah. Bahagiakah dia? Entahlah...
Saya menulis ini hanya ingin mengenang kebaikan hatinya. Kebaikan seorang sahabat, saudara dan lelaki yg mencintai perempuannya dgn sangat. Tidak lebih. Bahkan sampai saat ini saya tidak lagi th kabarnya. Hanya Tuhan yg tahu dia d mana dan bagaimana...

Kata-kata siapakah ini?

"Kita hidup tanpa meminta. Mati pun tiada sempat menduga.
Cintaku padamu seumpama kematian. Aku tak tahu kapan dia datang atau pergi suatu saat nanti"

Still remember those words. Till now. Gak tahu kapan aku menghafal kata2 itu. Dibuat oleh siapakah? Yg pasti ndalem banget di hati dan gak bs lupa

Rabu, 12 Maret 2014

Bunga dan Perasaan

Dulu, selalu terkagum dgn hamparan tulip di musim semi. Atau kuntum mawar berwarna warni, jg pohon sakura yg rimbun. Betapa indahnya...

Kalo mawar mungkin masih bs kujumpai di jalan, pekarangan rumah orang, atau di toko tanaman hias. Lha tulip? Sakura? Cuma bisa dilihat lewat layar datar bernama laptop, sambil bermimpi suatu saat bs menanamnya dan melihat sendiri indahnya, tentu tanpa membuka google terlebih dahulu...

Sekarang, masih suka tulip. Suka mawar, suka sakura. Sulitnya menjumpai bibit tulip membuat malas utk memimpikan bs menanamnya...
Atau merasa jera atas bibit2 mawar yg rada cerewet penyemaiannya...
Sakura? Ntahlah tak pernah terpikir mencari bibitnya...

Tp kutetap ingin menyukai bunga2 indah itu. Sempat menyukai bunga krisan, ternyata tak gampang memeliharanya. Gampang mati, tanamannya gampang stres...

Hmm... capek ya menyukai. Tapi dgn menyukai kt belajar menyemai, merawat, menyirami, memupuk...

Belakangan aku suka lavender dgn bunga kecil2, kembang morning glory yg kadang tumbuh liar, jg kuntum bunga thai yg kdg tumbuh dgn sendirinya.
Mereka mudah tumbuh, tak memerlukan perlakuan khusus, tdk mudah stress, tahan panas hujan.

Lavenderku sudah belajar berbunga. Morning glory ungu pekat tumbuh subur, sedang morning glory ungu yg kuambil di tepi jalan, jg merambat di dahan kayu. Indah....

Seperti perasaan. Perasaan yg sederhana, jatuh cinta dgn org yg sederhana tp menyayangi, jauh lebih mudah merawatnya...

Oh ya, satu lagi aku suka bunga tapak dara yg baru kujejer di pinggir rumah. Bunganya awet tak putus. Seperti perasaan yg selalu bersemi... :-)

Senin, 24 Februari 2014

Untuk Anakku

Adakah mentari esok masih kusaksikan?
Ketika bangun aku masih melihat engkau terlelap, ketika kubuka pintu kau masih menggeliat.

Adakah besok kita masih dpt melihat layang2 sore bersama. Pipit2 kecil yg berkicau di tepi rumah. Juga pesawat yg bergemuruh di atas rumah...

Adakah besok kita masih sama. Kita bersama, berpandangan, bertukar tawa, berpelukan, saling menyuapi, saling cinta...

Adakah besok masih milik kita, nak...
Semoga Allah memberi kita waktu yg panjang utk saling bersama. Merawatmu sampai kau mengerti bagaimana dunia ini...

With love, bunda... :-)

Kamis, 31 Mei 2012

Sekedar Sharing

Selasa, 29 Mei 2012
Hari ini kehamilanku telah 15 Minggu 5 hari...

Sungguh tak terasa. Baru rasanya aku surprise, terharu saat subuh dini hari pukul satu, aku membaca hasil test packku. Baru rasanya saat kubilang pada suamiku “Aku hamil” dgn wajah sangat bahagia meski  menahan kantuk sehabis membuka mata karena tak sabar ingin ‘tes’. Waktu itu suamiku hanya bilang, “benar  hamil dek?, jangan2 test pack murahan itu salah...”  Kukatakan, “aku kan udh telah 10 hari yank...” finally, ngecek ke dokter – Alhamdulillah – sudah  sebulan kata dokter waktu itu....

Soal test pack, sebenarnya aku sudah trauma menggunakan benda ini. Setiap bulan, selalu saja sebelum menstruasi aku buru2 ngetest. Bahkan pernah di suatu bulan, aku ngetes sampai 2 kali karena penasaran. Hasilnya, negatif semua. Bulan pertama aku biasa aja, belum rejeki. Bulan ke 2, mulai bimbang. Bulan ke 3, sedikit panik campur nangis segala, takut kalo aku gak bs hamil. Soalnya ingat sm kasus ibuku yg baru dapet aku setelah menikah 8 thn. Nah, sengaja d bulan ke 4 aku gak ngetes. Biarin aja, pikirku. Kalo sudah telat baru deh ngetes lagi. Akhirnya aku telat. Sehari, dua hari hingga sepuluh hari. Baru deh berani nyoba lagi...qiqiqi

Sorry ceritanya ibu2 banget ya? Ato terlalu vulgar? Insya Alah, smg bs diambil manfaatnya aja... Sebenarnya aku bermaksud berbagi simpati, bayangin kalo wanita telah bertahun tahun berumah tangga tapi blm dikasih momongan sm Yang di Atas. Aku saja yg 4 bulan menikah panik, apalagi yg sudah menahun. Jiwanya seorang ibu itu bakalan sedih, ngiri setiap ada teman2 yg baru menikah langsung hamil. Pasti bertanya2 dlm hati “Saya kapan ya kayak dia...?” “Kok dia udah dikasih saya belum?”, dll. Apalagi kalo liatin keluarga bahagia yg punya anak bayi, duuuh... pilu rasa hati. Rasa keibuan kita pasti terusik. Pengen hamil, gendong bayi, becandain bayi, dll. (sttt... ini cm dirasain sm yg udah nikah.hehe)

Aku mau sharing sedikit soal kehamilan. Menurut artikel yg kubaca, pasangan dikatakan punya masalah soal keturunan jika usia pernikahannya mencapai 1 tahun. Jika blm punya momongan juga, hrs segera dikonsultasikan ke dokter. Tapi aku mau bagi sedikit cara2 tradisionil yg bs membantu buat punya momongan. Kalo aku, waktu bulan ke 3 blm hamil, agak rutin membaca surah maryam ayat 1-10. Trus bs juga dgn terapi madu (kalo bs madu sari bunga alam) di campur kayu manis. Minum sari kurma dan minyak ikan juga bagus, tambah lagi susu hamil. Semua itu buat memancing khamilan. Yg paling penting berdoa, jgn putus asa dan slalu husnudzon sama Allah... Yakinlah Allah itu lebih tahu yang kita butuhkan, dari pada kita sendiri. Semangat ya para calon bunda...


Sabtu, 11 Februari 2012

Puisi di Wedding Card Saya

Ceritanya saya dan calon suami (sekarang sudah suami) sepakat akan ngasih kata-kata unik semacam puisi, atau wise words atau apalah yang bagus di undangan pernikahan kami.
Saya maunya yang 'doa pernikahan' yang 'islami' gitu. saya kirim ke dia. No comment, sementara diterima konsep saya. Nah, malamnya saat saya sudah melanglang buana ke alam mimpi, saya di sms beberapa alternatif puisinya Rumi sama si Gibran. Finally, ngalah deh saya. Secara tuh puisi lbh bagus dari yg saya kirim ke dia. sepakat punya sepakat dua puisi inilah yg akhirnya nangkring d wedding card nya kami.

Penasaran apa isinya tuh puisi, check it out (siapa tahu ada yg lagi nyetak undangan weddingnya, dan pengen ngasih kata mutiara jg, silahkan di copast, heheh )


Kebahagiaan adalah saat kita duduk bersama,
Dua sosok, dua wajah, yang menyatu …
kau dan aku.

Bunga-bunga ‘kan bermekaran dan
burung-burung ‘kan menembangkan kidungnya,
ketika kita memasuki taman … kau dan aku.

Bintang-bintang ‘kan muncul di langit ‘tuk menjadi saksi,
‘kan kita terangi mereka,
dengan cahaya purnama … kau dan aku.

Tiada lagi pemisahan ‘kau’ dan ‘aku’
nuansa kebahagiaan dalam penyatuan semata -
kegembiraan, kegairahan, tiada kesusahan … kau dan aku.

Burung-burung surga yang bersayap cemerlang,
‘kan menukik turun ‘tuk minum air yang manis -
air mata kebahagiaan kita … kau dan aku.

Betapa sebuah keajaiban, kita duduk disini,
walau di tepi dunia yang berseberangan,
kita tetap akan duduk bersama … kau dan aku.

Kita adalah satu sosok di dunia ini,
dan menjadi sosok yang lain dikemudian.

bagi kita ada surga yang abadi,
keceriaan yang tanpa akhir …. kau dan aku
(Jalaluddi Rumi)


Dan ketika kami memutuskan saling mengerti, kami biarkan dua hati kami bicara : tentang impian-impian kami, tentang hasrat dan kerinduan, kemudian kami menjadi takjub, karena ternyata kami begitu berbeda, sekaligus juga begitu serasi.

Maka kamipun berjanji untuk menyatukan hati kami dalam suatu bahtera, agar yang berbeda, meski berbeda namun jadi serasi, agar yang kosong, dapat terisi dengan sempurna, agar segala impian dapat kami wujudkan berdua.. Karena perbedaan kami bukanlah kendala selagi kami masih memakai bahasa yang sama dan bahasa itu bernama Cinta (Khalil Gibran)


Menulis Lagi

Semangkuk kolak pisang dicampur kacang ijo, temanku sore ini.
Ahai, sudah lama aku mengabsenkan diri dari dunia tulis menulis.
Berat, tp kucoba mengumpulkan semua keinginan, semua tenaga untuk mulai menekan huruf demi huruf di komputer.

lalu... satu tulisan pun selesai. Dengan usaha, kerja keras dan keringat. Tapi bukan tulisan panjang, hanya beberapa baris saja. hmmm...

Susah nian, sengal rasa pikiran untuk bisa menulis lebih panjang lagi, lebih punya makna lagi.
Seperti kata orang, aku ini bisa dibilang mati inspirasi. Atau barangkali, aku memang dasarnya tak memiliki bakat seorang penulis, seperti penulis-penulis yang bukunya sering kubaca.

Well, apapunlah, tapi aku sudah merasa senang karena sudah berusaha.
Soalnya aku jealous juga liat teman-temanku blognya penuh.
Besok, lusa, kedepannya, semoga aku bisa menulis lebih banyak lagi, lebih baik lagi....

Senin, 10 Januari 2011

Tak Menentu

Aku paling tidak senang berhadapan dengan hati yang melankolis seperti ini. Aku benci saat aku kehilangan tenaga untuk bisa berpikir lebih logis dan bijaksana. Aku benci diriku yang patah semangat, aku benci aku yang mudah menyerah oleh keadaan, aku benci hatiku yang rapuh. Seperti saat ini. Saat semuanya berada di luar kendaliku.

Ada apa denganku pagi ini? Bangun dengan perasaan yang sulit kuungkapkan, tak menentu. Padahal aku telah menyusun hati dengan sebaik2nya beberapa waktu lalu. Dan hari ini aku harus bertemu dengan banyak orang. Kalau moodku sedang hilang begini, mungkinkah semuanya akan baik2 saja? huh! I don’t like the way I’m this morning.

Minggu, 11 Juli 2010

Monolog Tahun ke-25

Berapa umurku kini? Ya, benar.... kini aku hampir 25 tahun.
Coba lihat hidupku. Aku belum jadi apa-apa. Tak ada yang bisa kubanggakan. Belum cukup 'besar' untuk menjadi manusia. Belum layak disebut bermakna.

Lihat aku. Secara duniawi aku tak punya apa-apa. Rumah tak punya. Kuliah belum sarjana. Pekerjaan tak jelas. Fasilitas nebeng semua. Mau bagaimana hidupku tahun depan? Mau kerja apa nanti? Belum bisa kujawab semua. Spiritualitas? Jauh minus. Dewasa? Ehmm....jauh, underground. Bijaksana? Low. Stress? High!

So, beginilah kawan diriku. Kutilik note-note yang sempat kubuat tahun lalu. Terpampang jelas "AKU di 2010". Apa kini? Itu semua hanya carikan kertas, sedang aku masih sampai di sini. Terkatung-katung mencari kepastian nasibku. So? sudah layakkah aku disebut manusia?

Begitu banyak yang ingin kutemukan suatu hari, tapi belum kutemui hari ini, kawan. Katakanlah, belum jadi bagian dari takdir hari ini.

Tapi esok? Kemungkinan pasti ada. Lagipula, siapa yang tahu apa yang terbaik bagiku?
Siapa yang tahu waktu tertepat untukku? Hmm.... Entah sobat, Tuhan mungkin?

Kau benar. Aku sudah 25 tahun. Tapi itu tak begitu penting kurasa.
Setidaknya aku masih hidup hingga kini. Masih sempurna dari ujung kaki hingga rambut.
Masih bisa bertemu dengan banyak orang. Masih bisa tertawa. Masih bisa kuliah. Masih bisa mengeluh disini. Masih bisa...masih bisa, kawan.

Aku mungkin memang belum cukup besar dan bermakna.
Tapi, sesungguhnya, apakah arti besar dan bermakna itu sendiri? Katakan, apa standarnya?
Saat kutanya itu pada diriku, aku makin binggung. Lalu aku teringat kata seorang kawan baik, bahwa segala sesuatu dimulai dari pikiran. Yakkk...dan mungkin ia benar.

Jumat, 12 Maret 2010

Teman Bicara

Masih seperti bulan lalu
Kita masih bicara
Tentang apa yang kita lalui hari ini
Lalu tentang tulisan
Lalu tentang takdir
Lalu tentang kehidupan

Kau bertanya
Aku menjawab
Dan sebaliknya

Tak ada rentang
Semua terbuka
Apa adanya

Kita bagai dua sisi yang baru saja dipertemukan
Saling menanti di sudut kota
tiap senja menenggelamkan matahari

Menunggu hingga malam
Ketika suara binatang-binatang mengalun tenang
Hanya untuk berkisah soal masa depan
Juga mimpi-mimpi yang kita rajut tiap hari

Kita, adalah teman bicara

Ramah

Beberapa waktu lalu sempat terkaget-kaget mendapati diri saya “dinobatkan” sebagai senior teramah dalam momentum acara puncak HUT Asrama yang saya tempati. Sebelumnya memang ada poling asrama putri dan putra untuk beberapa nominasi yang telah dibuat. Namun, malam itu sungguh membuat sedikit terkejut. Senang iya, namun lebih dari itu membuat saya introspeksi diri, akan eksistensi diri saya di tengah-tengah orang yang saya cintai. Benarkah saya selama ini sudah sedemikan ramah? Ehm… lebih tepatnya, benarkah saya telah membuat orang-orang di sekitar saya merasa aman dari kata-kata yang keluar dan tindakan saya? Saya mencoba mengaca diri kembali. Bagaimanapun selama ini saya masih merasa sangat egois. Ketika sedang tak enak hati, seringkali orang-orang di sekeliling saya mendapati saya cemberut, tidak menyapa, tidak berwajah ceria atau paling tidak diam, seakan masalah saya paling besar, seakan saya paling stress, seakan saya paling layak tidak menyapa karena saya senior. Begitukah? Ehm….Sungguh saya malu pada diri sendiri saat mendapatkan award senior teramah itu. Lalu bagaimana di luar sana? Saya juga merasa sering sungkan menyapa duluan orang yang saya temui. Malah terasa lidah sangat berat menyapa orang-orang yang tidak saya kenal dalam antrian, masjid, bus kota, rumah makan, atau tempat umum lainnya.


Masya Allah… Saya masih juga sombong ya? Makanya sempat malu dan grogi sendiri saat suatu hari harus memberikan meteri soal senyum, salam dan sapa dalam suatu moment siaran. Duh…diri ini saja masih sombong pada sesama…Padahal apa susahnya menarik bibir 2 cm ke kiri dan ke kanan demi membentuk sebuah senyum tulus. Apa salahnya memberi sepotong kata “Assalamuailaikum” pada orang-orang yang saya temui, juga tak susah menyapa dengan sedikit berbasa-basi pada orang yang baru ditemui. Apa susahnya.?Bukankah setiap orang senang disapa, diberikan sepotong senyuman, dan didoakan dengan assalamualaikum?”…


Sungguh harus tertegun membaca bukunya Dakwah Fardhiyah Hassan Al-Banna. Saking ingin berkenalan dengan seseorang dalam bus kota, belio rela ‘berpura-pura’ menginjak kaki orang yang ingin dikenal dengan maksud basa-basi untuk memulai pembicaraan lebih lanjut.

Saya jadi teringat pada tulisan seorang teman. Belio berkata, apa sih susahnya me-like status seseorang di face book? (thanks dini…) Saya sepakat! Bukankah memberikan tanda like itu, hanya persoalan menekan tombol klik pada mouse? Dan rasanya itu sangat tidak sulit. Bahkan memberikan sedikit kata-kata komentar pun tidak sulit, cukup memberikan sepatah dua patah kata saja, dan sahabat kita akan senang…


So, alangkah menyenangkan bila kita bisa ramah pada semua orang. Semua orang suka pada orang ramah dan membuka diri. Secantik dan seganteng apapun wajah seseorang, kalau terlihat sangar dan cemberut pasti tidak sedap dipandang. Kuncinya, harus berani memulai duluan, dan jangan takut bila dicuekin. Bukankah telah dikatakan, bahwa rezeki seseorang akan panjang dengan silaturrahim. Siapa tahu, saat kita menyapa seseorang yang baru kita kenal, dan saat itu ternyata dia butuh seseorang untuk dipekerjakan, eh…. kita malah dikasih kerjaan, ya gak? He he he…:] Wallahualam bis shawab..

Selasa, 02 Maret 2010

Menyesal bertemu orang baik


Pernahkah menyesal bertemu seseorang? Mungkin pernah. Tapi pasti dia bukan orang baik, atau ia pernah membuatmu sakit hati. Tapi pernahkah kau menyesal bertemu dengan orang yang sangat baik? Aneh, tapi aku (pernah) menyesalinya.

Kenapa? Pasti semua orang akan bertanya demikian? Bukankah bertemu dgn orang baik akan membawa kebaikan juga bagimu? atau bukankah orang baik tidak akan menyakiti hatimu?
Aneh...

Ya, demikianlah adanya. Aku pernah mengucapkan "menyesal" bertemu orang baik. Kenapa? alasannya satu, karena ia terlalu baik. Kebaikannya itu membuatku sangat "tidak nyaman". Malah aku sempat berpikir "seandainya dia tidak terlalu baik..., maka...."

Tetapi aku baru saja tahu, bahwa tenyata ada saat2 dimana kebaikan seseorang tidak sinergi dengan keadaan yang ada, yang mengharuskan untuk berpikir 'tidak logis'. Keadaan itu, di mana antara realita dan keinginan tidak dapat bertemu pada satu titik yang sama.
Ya....mungkin di saat itu kau akan mengatakan menyesal bertemu orang yang sangat baik...
Karena kau tak sebaik dirinya....


buat seorang teman yang selalu sangat baik, maaf buat semuanya
...

Selasa, 23 Februari 2010

Hanya Prolog, Tak Sempat Lebih Dari Itu


Aku benar-benar lupa bagaimana menulis. Beberapa waktu belakangan, aku merasa tak punya waktu untuk menulis, namun lebih tepatnya tak memiliki rasa yang memaksa untuk dikeluarkan dalam kalimat-kalimat. Takut, gembira, kalut, lucu, debar, sakit atau apapun itu telah menyatu menjadi satu, mengawang-awang di angkasa lalu terbang entah kemana. Pergi....

Sudah kuduga, aku memang tak pandai menterjemahkan rasa. Syukurlah aku masih bisa merasakan sesuatu atas apa yang terjadi padaku. Jika tidak, aku pasti sudah dikatakan mati rasa.. Baiknya kukatakan saat ini, bahwa aku ingin menghilangkan rasa itu secara praktis dengan menganggap segalanya baik-baik saja. Jika sudah begitu, biasanya aku akan bertanya, apakah aku benar baik-baik saja? Tapi lagi, bukan untuk dijawab, tapi belajar untuk menyelesaikannya. Kesiapan hidup kita, dipandang dengan sejauh mana kita mampu menyelesaikan masalah demi masalah yang dihadirkan.

Aku mungkin tidak pernah secara yakin menyatakan kesiapan untuk hidup. Namun, saat telah siap bahkan sukses menyelesaikan masalah demi masalah, kau hidup. Itu buatku. Hidup sering terasa hanya untuk menyelesaikan masalah demi masalah, lalu belajar mengambil hikmah. Meskipun, kadang aku merasa tak sempat mengungkapkan apa yang benar-benar kurasakan secara jujur. Mungkin pernah, tapi baru prolog, aku masih tak sempat untuk lebih dari itu.


*Di suatu jeda siang, menyempatkan diri berada di depan monitor.

Minggu, 07 Februari 2010

Aku Sudah Lupa


Aku sudah lupa bagaimana membuat puisi

Apakah kau tahu caranya?

Ajarilah aku…

Tunjukkan padaku bagaimana memulainya

Karena ku sudah lupa bagaimana membuat puisi


Aku sudah lupa pada puisi

Sejak bertahun-tahun lalu

Tepatnya saat musim kemarau datang

Ketika aku ngantuk dan terlalu lelah

tuk mengingat serangkaian huruf –huruf


Aku benar-benar lupa akan puisi

Yang kuingat,

Terakhir aku membuangnya ketempat sampah

Dalam sobekan-sobekan tak utuh

Setelah puas menertawainya


Kini, ia menumpuk di depan mata

Helai demi helai dalam koper tua

Kian hari tulisannya kian kabur saja

Tapi aku telah lupa bagaimana membacanya

Apalagi membuatnya.

Mungkin benar

Bahwa aku benar-benar telah lupa pada puisi.

Jumat, 05 Februari 2010

Mencari dan Menemukan

Hidup kadang membawa kita pada satu tempat yang tak kita ketahui. Setiap saat kita melangkah dan terus melangkah, meski kadang sebenarnya kita tak tahu hendak menuju kemanakah kita dan apakah di sana benar-benar ada suatu tempat pemberhentiaan terakhir kita.

Manusia memang tidak pernah puas. Saat kita berjalan dan menemukan sesuatu, tidak lantas membuat kita berhenti. Malah kita terus berjalan mencari sesuatu yang lain, begitu seterusnya hingga ajal datang menghentikan ritme perjalanan kita

Hidup dan perjalanan. Apa bedanya? Dalam hidup kita bertemu dengan banyak orang. Ada yang menawarkan kebaikan, bantuan, ketulusan, juga cinta. Tapi seperti perjalanan, pada suatu saat kita harus meninggalkan mereka atau mereka yang pergi meniggalkan kita demi melanjutkan sebuah perjalanan mencari kebahagiaan di ujung jalan sana. Lalu, di tengah perjalanan, kita kembali bertemu dengan seseorang atau banyak orang. Kita berbicara, bercerita, saling membantu, namun seperti sedia kala, mereka harus kita tinggalkan.

Begitulah hidup. Serupa perjalanan. Kita mecari banyak hal, dan terus mencari seolah belum bertemu dengan yang benar-benar kita inginkan hingga bisa membuat kita bahagia. Kita berkata pada diri kita, saya akan merasa bahagia jika saya lulus kuliah. Setelah lulus kuliah, kita akan mengatakan kembali, saya akan bahagia bila mendapatkan pekerjaan yang layak. Setelah bekerja kita kembali berkata pada diri sendiri, saya akan bahagia bila saya mendapatkan posisi penting di kantor, dan begitu seterusnya hingga kita tua dan ajal menjemput kita. Padahal kadang kita tak tahu apa yang benar-benar kita inginkan dalam hidup. Apakah yang benar-benar ingin kita temukan itu adalah kebahagiaan? Atau dengan mencari dan terus mencari itu memiliki kebahagiaan tersendiri?

Ya, mungkin benar, bahwa “LIFE IS A JOURNEY NOT A DESTINATION”, hidup adalah rangkaian perjalanan dan bukan tujuan. Kita akan bahagia justru dengan mencari dan terus mencari, walau kadang kita sendiri tak tahu apa yang benar-benar ingin kita temukan. Justru, dengan sifat tidak pernah puas itu, kita akan kembali mencari. Dan mencari akan membuat kita dinamis, mobile dan produktif. Apapun yang kita temukan nanti di perjalanan hidup kita, pastilah itu semua sudah tertulis dalam GBHN (Garis-garis Besar Haluan Nasib). Tapi sekali lagi, kita tak akan tahu tahu itu nasib yang tertulis dalam takdir atau bukan bila kita belum berusaha.

Subhanallah, maha suci Tuhan yang menciptakan manusia dengan rasa tidak pernah puas dan betapa beruntungnya orang-orang yang tidak pernah puas itu. Walau pada hakikatya akhir dari pencarian kita adalah bertemu dengan-Nya. Dan itu adalah sebenar-benarnya tujuan akhir kita.
Selamat mencari dan menemukan, kawan….

Sebuah perenungan di akhir January 2010.

Senin, 01 Februari 2010

Karena Ia Pagi


Semua menepi dalam tenang
Saat pagi itu singgah, lalu pergi diam-diam
Pagi itu,
Apa bedanya seperti kehidupan dan kematian
Kita tak pernah tahu kapan ia datang

Pagi, semuanya begitu tergesa, ganjil dan rumit
Ia tak pernah berkisah tentang apa-apa
Ya, mungkin karena ia hanya pagi


*Akhir January 2010

Kamis, 21 Januari 2010

Mengapa Aku Menulis

Waktu selalu menciptakan jarak dan objektifitas tentang apa yang sudah kulewati dalam hidup. Setelah menulis banyak cerita di buku harian dan blog ini, aku baru teringat bahwa aku punya hidup. Dan aku telah melakoni banyak adegan hidup ini.

Sejak dulu, aku terbiasa mencatat setiap kejadian mengesankan, membahagiakan, mengharukan, dan memedihkan dalam hidup ini.. Sekarang, saat aku kesal, benci, marah, tidak puas, pesimis, negatif, aku akan mengambil buku untuk menuliskannya.Aku mengakui, bahwa semua itu hanya perasaan, dan perasaan bisa berubah. Aku juga tahu itu adalah energi yang ingin menemukan tempatnya.

Aku mulai menulis dari kebahagian dan kepedihan setiap hari, yang pada akhirnya akan menghadirkan kecintaan pada hidupku yang kecil dan sering kehilangan arah ini. MePost Optionsngapa aku menulis? Ya, karena aku lebih memilih menutup mulut dari pada mengumbar egoku untuk bercerita pada mereka. Aku menulis, untuk menyembunyikan ego sejatiku, bahwa aku ingin keabadian, aku ingin orang-orang yang kucintai berada bersamaku selamanya. Aku benci kesementaraan kita, aku benci berlalunya waktu. Di tepi kebahagiaan yang kumiliki kini, ada duka yang merayap, bahwa semua ini akan berlalu.

Aku menulis karena aku bersyukur memiliki pikiran, perasaan, kedua tangan, lengkap dengan jari jemarinya. Selainnya, aku adalah orang yang mudah terkagum-kagum pada Alam ciptaan-Nya. Mungkin, banyak yang tak tahu rasa indahnya berada di bawah senja yang tiba-tiba datang, perak dilangit-langit, gemuruhnya hujan, dan harumnya rumput di pagi hari.

Aku menulis karena aku sendirian dan berjalan di dunia sendirian. Hidupku adalah milikku, dan tak seorang pun tahu apa yang telah aku lalui, dan lebih mengherankan lagi, kadang aku pun tak tahu. Aku hanya menulis, karena kadang aku hilang kekuatan untuk bertahan. Aku menulis karena aku gila pada ajaibnya kehidupan ini, dan kurasa aku harus melakukan sesuatu selain membuangnya ke tempat sampah.

Aku menulis karena ada cerita-cerita yang dilupakan orang untuk diceritakan. Karena aku seorang perempuan yang kerap dipandang lemah oleh mereka yang bernama laki-laki. Aku menulis karena aku menyukai kata-kata. Teramat menyukai puisi, juga harumnya kertas.

Aku menulis karena aku mencoba menjadi lebih hidup, menemukan jarak di ruang kecilku sendiri, mendorongnya keluar dan memberinya warna dan bentuk. Aku menulis karena aku terlalu miskin untuk membuat dunia khayalku menjadi nyata, dan menulis mungkin adalah satu-satunya yang kumiliki.

Aku menulis karena aku kadang tak mengerti apa yang benar-benar kurasakan.
Aku menulis karena rasa bahagia yang Tuhan berikan. Aku menulis karena rasa pedih yang tak bisa kusampaikan dan bagaimana membuat rasa itu diterima; bagaimana membuat diriku kuat dan kembali pulang, menemukan jalan terbaikku. Aku menulis karena aku punya hati dan itu mungkin satu-satunya rumah sejati yang pernah benar-benar kumuliki.

Pada akhirnya, aku menulis karena aku ingin merekam semuanya selagi aku masih muda dan masih bisa mengingat semuanya dengan benar. Dan aku ingin aku punya sesuatu yang bisa kuceritakan saat aku tua nanti.

Minggu, 17 Januari 2010

Esai Kesendirian


Menulis lagi.
Dalam lembar-lembar kosong,
hati yang tak pasti,
pikiran yang kusut
dan ketiadaan rasa.

Beberapa hari ini, aku memustuskan aku perlu sendirian. Meski sebenarnya ketakutan terbesar dlm hidupku adalah kesendirian. Tapi, ketakutan terbesar itulah yang harus kutaklukkan demi sesuatu yang aku sebut impian hidup. Makanya, saat ini aku memberanikan diri untuk berhadapan dengan kesendirian, walau pada akhirnya, aku akan merasa sangat kesepian.

Kesepian. Apalagi makhluk yang satu ini. Bicara tentangnya sama saja bicara tentang kengerian dan kepekatan malam. Tapi, untuk saat ini, ia juga adalah teman. Padanya, aku bertanya apa yang akan kulakukan dan apa yang harus kuyakini. Dengannya, semua ide cerita hidup dan mengalir seperti air yang menemukan muaranya.

Aku mencintai kesendirian itu. Aku mencari-carinya bila ia pergi jauh. Aku nyaman menghabiskan waktu sendirian. Kemana saja. Ke kampus, ke mall mencari buku-buku favorit, ke tepian sungai, kemana saja.

Aku juga sadar, bahwa hidup tak harus sendirian. Tapi, paling tidak, beberapa hari ini, izinkan aku sendrian. Aku ingin berpikir, ingin merenung, ingin larut sejenak dalam imajinasiku sendiri, dan ingin terbang bersama kesedihan. Tak perlu semua orang tahu bahwa kali ini aku sedang rapuh. Hingga tak perlu membenani mereka dengan membuat status betapa sedih dan melankolisnya aku saat ini di status pertemanan atau bercerita panjang lebar sambil terisak-isak. Tak perlu!. Lukaku, milikku sendiri. Biarlah yang tertulis di sana kata-kata yang akan membuat inspirasi buat orang-orang di sekelilingku, atau paling tidak kata-kata yang mengajak diri ini untuk bersemangat. Walau kadang kita harus mengatakan apa yang sebenarnya tidak kita rasakan, atau sebaliknya tidak mengatakan apa yang kita rasakan.
Entahlah...

Minggu, 10 Januari 2010

Hidup, Akan Kemanakah Kita Hari ini?


Kadang, ku ingin hidup berhenti di suatu detik
Kadang, kuingin hidup menungguku
Apakah di suatu persimpangan yang aku tersesat
Ataukah di sebuah kereta yang aku terlambat
Ya, aku ingin hidup menoleh padaku

Lagi, kemarin aku bertanya pada hidup
“hidup, akan kemanakah kita hari ini?”
Tapi lagi, hanya diam tanpa jawab
Ia berlalu, sambil menarik tanganku,
membawaku pergi ke suatu tujuan yang tak kuketahui
Hingga aku lelah dan akhirnya terlelap di suatu gelap

Hari ini, kembali kuterbangun
Berharap, ia akan bertanya padaku
“Jiwa, kau mau kemana?”
Tapi tidak, dia hanya berkata “Ikutilah aku”
Dan begitulah seterusnya
Entah sampai kapan….



Lagi, Kuminta Ia Menguatkan.


Begitu banyak hal tak terduga yang terjadi dan akan terjadi di kemudian hari. Kadang membuat bahagia, kadang membuat sedih, kadang terkejut dan kadang datar2 saja. Tapi, ada satu hal yang selalu kuminta pada-Nya, kuatkan aku menghadapi semuanya dengan hati yang lapang. Aku ingin ikhlas, ingin bisa tersenyum menghadapi semuanya, walaupun hati sebenarnya lebih ingin menangis, walaupun pikiran memaksa untukku menyerah, walaupun aku kehabisan kata2 untuk menegarkan diri.

Aku bukan anak kecil. Yang apapun keinginannya harus selalu dikabulkan. Aku bukan anak kecil yang harus menyikapi ketiadaan dengan menangis sejadi-jadinya. Aku manusia dewasa. Meskipun kadang juga butuh setetes dua tetes air mata. Dan kurasa, semua manusia membutuhkan air mata, apakah kecil atau dewasa. Bukan semata2 ingin meneggelamkan diri dengan melankolisme, hanya sebuah ungkapan perasaan atas ketidakberdayaan dan kelemahan sebagai manusia untuk kembali menyerahkan urusan pada-Nya.