RSS

Jumat, 26 Juni 2009

Happiness

KEBAHAGIAAN… You call it Happiness in English…
But actually, have you ever gotten the real happiness? I don’t know. You’ve known d answer. But, don’t ask me about that. I’m trying, still trying to translate that word correctly….in my own way… What about you?

Lelaki itu pergi menjauh… dengan terbata-bata ia kembali mendorong gerobak sampahnya yang terlihat penuh dengan sampah, hasil jerih payahnya mengumpulkan sampah dari satu bak sampah ke bak sampah lainnya. Mungkin ia melakukan ini setiap hari, dari pagi hingga siang seperti saat ini.

Siang ini panas matahari begitu terik. Ku lihat keringat laki-laki itu bercucuran, nampak membasahi baju tipis lusuh yang aku pun tak tahu lagi warnanya, mungkin putih, tapi mungkin juga abu-abu, kumal. Ku yakin, laki-laki yang kini berada di hadapan ku bukanlah laki-laki biasa, yang menghabiskan waktunya dengan santai. Ku lihat postur tubuhnya yang ringkih, hitam khas pekerja keras, penuh dengan keriput di sana sini. Terbayang olehku bagaimana ia berjuang setiap hari, mengais-ngais sampah dari satu tong sampah ke tong sampah lain di jalanan untuk beberapa ribu rupiah, menghidupi keluarganya. Jika tidak, bagaimana mungkin laki-laki yang layaknya disebut kakek itu masih berada di jalanan nan panas seperti ini, bukan bersama keluarga, istri, anak-cucu, sedang bercanda atau makan siang dengan mereka hari ini. Itulah mungkin alasan kenapa aku berada di sini, di sebuah sudut jalan untuk menemuinya setelah sempat putus asa mencarinya, mengitari jalan tempat tadi aku berpapasan dengannya.

Pertemuan yang tak di sengaja memang. Saat aku pulang dari pasar, aku melihatnya dari jauh. Aku takjub. Ku lihat ia dengan sekuat tenaga mendorong gerobak sampahnya yang berat itu menyeberangi jalan yang ku lewati. Entah kenapa, ada yang terasa perih di hati ini. Pemandangan seperti ini memang bukan untuk pertama kali ku saksikan, tapi betapa aku tak berani menuruti kata hatiku. Aku lebih sering membiarkan mereka berlalu. Begitu pun kali ini. Aku membiarkan saja laki-laki pemulung itu berlalu sedang aku kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah. Tapi tak tahu kenapa, ada yang teramat sakit di hati ini, dan aku menangis tiba-tiba saja, aku pun tak tahu mengapa aku menangis. Ku putar kembali motorku. Kembali menyusuri jalan yang sama, jalan di mana aku bertemu dengan kakek pemulung tadi, berharap ia masih di sana.


Lelah aku menyusuri jalan itu, tapi aku tak menemukannya lagi. Aku pun terpaku di pinggir jalan, putus asa. Ku pikir sebaiknya aku pulang saja. Tapi… hei… tunggu dulu, aku kembali menemukan sosok itu sedang berhenti di pinggir jalan seberang. Dia berhenti sebentar mengelap keringatnya lalu kembali mendorong gerobak sampahnya. “Alhamdulillah…”,lirihku. Aku kembali mengejarnya, walau jalan yang kulewati lumayan berputar untuk sampai ke tempat ia berada. Ku lihat ia terkejut saat aku dan kendaraanku parkir di depannya. Aku menyapanya. Aku sempat bingung bagaimana harus menyapanya. Ku lihat ia begitu tergesa-gesa, seperti ingin mengatakan padaku “kenapa berhenti di sini” atau “permisi saya mau lewat”. Tanpa basa basi aku menyodorkan beberapa lembar uang kertas yang sedari tadi ada dalam genggamanku. “Maaf pak, ini buat bapak, diterima ya…”, kataku lirih, sambil takut-takut kalau ia tersinggung dan menolaknya. Aku salah. Ku lihat ia sumringah, tersenyum, memamerkan barisan giginya yang kelihatan hitam sambil menerima uang yang tak seberapa nilainya itu. “Terima kasih mbak…”, balasnya. Tanpa banyak bicara ia pergi meninggalkan aku yang terpaku di pinggir jalan sendirian. Ia menjauh, terbata mendorong gerobaknya. Tapi entahlah, bagaimana harus ku definisikan perasaan ini. Yang ku tahu bahwa aku teramat senang, teramat bahagia hingga aku lupa menanyakan nama bapak pemulung yang baru ku temui itu, juga tak sadar bahwa ada bapak pemilik ruko tempat kami berdiri yang sedari tadi memperhatikan kami.

Ini hanya sedikit kisah “kecil” di perjalanan. Tentang bagaimana kita menterjemahkan kebahagian menurut versi kita masing-masing. Mungkin setiap orang punya defenisi yang berbeda tentang kebahagiaan. Sebagian mendefinisikan kebahagiaan sebagai hidup yang mengalir tanpa hambatan, posisi yang bagus di tempat kerja, financial yang memadai, rumah dan berikut property yang bisa diandalkan, suami/istri yang mencintai, anak-anak yang lucu dan patuh, etc. Mungkin, itu mungkin kebahagiaan. I’m sure everybody loves those.. Tapi entahlah, saya hanya merasa kadang kita terjebak dengan kebahagiaan yang sifatnya materialis. Kita terbiasa mendefinisikan kita bahagia karena kita tak lagi berpusing2 memikirkan bagaimana mengisi perut hari ini… sementara banyak orang disekitar kita yang “tak bahagia” karena urusan perut masih menjadi menu harian yang harus dipikirkan, dan entah kapan berakhir atau mungkin tak pernah berakhir.


Tulisan ini hanya sebuah intermezo dalam perjalanan, tentang bagaimana kita memaknai kebahagiaan kita masing2. Saya yakin setiap orang berhak membuat definisi bahagia itu... tapi yakinlah dengan sedikit rezeki (kebahagiaan) yang kita bagikan untuk orang lain, maka hati kita akan lebih bahagia....

”Di suatu siang yang gerah”

written from one's experience

Kamis, 18 Juni 2009

KESULITAN? ATASI SEKARANG JUGA !


Di sebuah ladang terdapat sebongkah batu yang amat besar. Dan seorang petani
tua selama bertahun-tahun membajak tanah yang ada di sekeliling batu besar
itu. Sudah cukup banyak mata bajak yang pecah gara-gara membajak di sekitar
batu itu. Padi-padi yang ditanam di sekitar batu itu pun tumbuh tidak baik.

Hari ini mata bajaknya pecah kagi. Ia lalu memikirkan bahwa semua kesulitan
yang dialaminya disebabkan oleh batu besar ini. Lalu ia memutuskan untuk
melakukan sesuatu pada batu itu.

Lalu ia mengambil linggis dan mulai menggali lubang di bawah batu. Betapa
terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa batu itu hanya setebal sekitar 6
inchi saja. Sebenarnya batu itu bisa dengan mudah dipecahkan dengan palu
biasa. Kemudian ia menghancurkan batu itu sambil tersenyum gembira.
Ia teringat bahwa semua kesulitan yang di alaminya selama bertahun-tahun
oleh batu itu ternyata bisa diatasinya dengan mudah dan cepat.

Renungan:
Pepatah mengatakan, semakin jauh kita meletakkan benda dari cahaya,
semakin besar bayangannya di dinding. Kita sering ditakuti oleh bayangan
seolah permasalahan yang kita hadapi tampak besar, padahal ketika
kita mau melakukan sesuatu, persoalan itu mudah sekali diatasi.
Maka, atasi persoalan anda sekarang.

takeb from Brian Cavanaugh, T.O.R., The Sower's Seeds

Rabu, 17 Juni 2009

DOA SANG JUARA


Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil
balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak
final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil

mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah
peraturannya.

Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk
dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark lah
yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu
untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana
dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan
mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu
semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap

anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka
kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4
"pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur
terpisah diantaranya.

Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba
dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya
terpejam, dengan tangan tang bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit
kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap!".

Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai
mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat.

Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya
masing-masing. "Ayo..ayo... cepat..cepat, maju..maju", begitu teriak
mereka. Ahha...sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun
telah terlambai. Dan, Mark lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu
juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. "Terima
kasih."

Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum
piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. "Hai jagoan, kamu pasti
tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?". Mark terdiam.
"Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata Mark.

Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan
untuk menolongmu mengalahkan orang lain. "Aku, hanya bermohon pada
Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah." Semua hadirin terdiam
mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan
yang memenuhi ruangan.


***

Teman, anak-anak, tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita
semua. Mark, tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap
ujian. Mark, tak memohon Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap
hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan
semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang
lainnya. Namun, Mark, bermohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat
menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau
menyadari kekurangan dengan rasa bangga.

Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan utuk berdoa pada Tuhan
untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita
meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik,
menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada
Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan
mata. Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya,
tuntunan-Nya, dan panduan-Nya?

Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering
lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah
semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Tuhan memberikan
kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah
menyerah. Sesungguhnya, Tuhan sedang menguji setiap hamba-Nya yang
shaleh.

Jadi, teman, berdoalah agar kita selalu tegar dalam setiap ujian.
Berdoalah agar kita selalu dalam lindungan-Nya saat menghadapi itu
semua. AminJustify Full

Kamis, 05 Februari 2009

Bukan soal CINTA

"Ini bukan soal apakah saya cinta atau tidak, tapi soal bagaimana saya membangun cinta". Itulah kalimat yang seringkali mampir ditelinga saya setiap "jalan" dengannya, teman saya yang haroki itu. Sungguh, prinsip yang luar biasa saya pikir. Ketika semua orang ingin menikah dengan orang yang dicintai, tapi teman saya yang satu ini malah punya prinsip demikian berbeda. Ia ingin menggenapkan hidupnya dengan seseorang yang tak dikenalnya, dan kini tinggal menunggu hari, itupun terjadi. Beberapa minggu lagi akan melepas status lajangnya dengan seseorang yang bahkan hanya ditemuinya hanya 3 kali.

Wallahualam. Saya juga tidak begitu ambil pusing dengan prinsip teman yang satu ini. Saya tahu betul bahwa apapun yang ia katakan, maka akan ia buktikan. Tapi, menikah dengan orang yang tak dikenalnya, belum bisa saya terima.. Saya ini, walaupun telah sekian tahun di tarbiyah dari zamannya suharto dulu (SMA) masih saja belum bisa menerima prinsip itu. Bukannya mau nyeleneh, tapi sulit saja rasanya menikah dengan orang yang tak dikenal. Apalagi ketika hidup bersamanya harus dimulai dengan membangun cinta, saya takut tak bisa, takut mengecewakan dia dan tentu saya juga kecewa. Jadi saat ia bilang begini begitu toeri memilih pasangan ala "dia" saya hanya mangut2 saja.

Well, god knows the best for us. So, let it flows... Biarkan semuanya mengalir. Toh urusan apapun kalau diserahkan padanya pasti "Beres". Ok friend, buktikan sekali lagi pada saya kalau menikah itu adalah prinsipnya membangun cinta, bukan soal cinta. I wait for it...

"Met Menempuh Hidup Baru buat teman seperjuangan, yang mengajarkan optimisme di setiap senyumnya..."

Senin, 11 Agustus 2008

Kacau

"Rasa kehilangan hanya akan ada,
Jika ku pernah merasa memilikinya..."
(Letto's song, Memiliki Kehilangan)

Puih..., Rasanya pikiran kacau banget, kesel, sedih, dan pengin nangis, pengen teriak sekencang2nya. Sakit banget... bahkan lebih sakit dari yang namanya sakit hati en sakit gigi. Bukan apa2 sih, cuma lagi nggak siap aja menjalani perpisahan ini (kayak lagu ya...?). Susah kali cari orang yang mengerti kita, yang sama hobi sama kita, atau yang bener2 nyantol di hati kita. Tapi, tiba2 aja... harus berpisah. Mendadak banget, sampai2 gak sempat say good bye. Huh... Sekarang??? lagi2 terkejut, yang baru nyatanya beda banget ama yang lama. So cool, calm, and... (it's a secret).
Well, Tarbiyah emang nggak ada matinya, ding. Bertahun2 di lingkarang ini sampai bejamur pun masih tetap aja harus di tarbiyah. Sedih??? Pasti lah, tapi lapangin hati lebar2 aja deh. Allah lebih yahu yang terbaik untuk ku.
Met tinggal ya my beloved friends, Al-Ma'arij crew, temen2 liqo yang ceria, yang punya hobi sama, suka foto and makan. Berat banget pisah dari kalian, sahabat2 luar biasa yang banyak membawa inspirasi. Kayak kayanya Letto, rasa kehilangan itu ada, jika pernah merasa memiliknya.

to: SS, UK, SDJ, RJ, LS, SA, HS, AW, FT, and super MR, Mbak M, Moga cepat menyelesaikan S2nya.

Jumat, 08 Agustus 2008

Mampir Menjenguk Blog Koe

Lama gak nge-blog lagi. Ke warnet sih sering, tapi lagi-lagi harus browsing. jadilah blog ini di"telantarkan" begitu saja bak gak berpenghuni. Tugas akhir cukup berat rasanya. Musti nyari bahan, mesti lembur malam, yang pasti mesti nyari maisyah juga dunk biar lancar. Pokok ne mesti extra kuat mental dan kuat finasial. Musti jadi super women juga belakangan ini. Beginilah nasibnya "orang tua" di kampus. Dari pada nanti di bilang "penghuni Kampus" mending cepat-cepat selesaikan Tugas akhir. Oh ya bentar lagi di kampus tercinta ini ada suksesi PEMIRAMA. Agenda tahunan yang jadi "proyek" rebutan. Siapa ya yang akan menduduki kursi nomor 1 dan nomor 2 di kampus ini? whoeverlah, yang pasti yang bapak/ibu presma dan wapresma nantinya musti punya visi n misi buat menjadikan FKIP lebih baik dari kepemimpinan Didi n Anti (nama panggilan waktu kampanye, red).

"Selamat tinggal BEM ku sayang.
Rumah tempatku bernyanyi dan tertawa riang..
Tempatku belajar meniti asa...
Tempatku menumpukan segala cita-cita...
Tempatku menemukan sepotong optimisme untuk terbang
Tempatku menemukan sebait jati diri dari cerita yang hilang...
Telah kupersembahkan segala baktiku...

Jumat, 27 Juni 2008

AKU INGIN MENGEPAKKAN SAYAP

"Aku ingin mengepakkan sayap,
Di suatu tempat yang sangat tinggi.
Aku ingin menerbangkan letih,
Pada awan yang menggumpal putih..."


Kadang, kita merasa sangat kelelahan berjalan. Entah karena panas matahari yang terik atau derasnya hujan, atau mungkin karena angin malam yang mendinginkan badan. Sunnatullah dakwah kah itu namanya? Ya, itulah sunnatullah. Ketetapan bagi mereka yang memilih "kekal di dalam akhirat yang indah".

Tribulasi adalah keniscayaan. Kalimat pertama yang terasa menggetarkan semangat perjuangan pada awal2 tarbiyah dulu. Ah, rasanya ingin segera memenuhi panggilan dakwah seketika itu juga. Namun beberapa tahun berjalan, nyatanya tak seperti yang diharapkan. Kadang tribulasi yang datang serasa menggerogoti semangat perjuangan. Kanan kiri, melihat teman-teman yang "berhasil", cepat lulus kuliah atau berprestasi di bidang akademik, rasa iri itu pasti ada. Apalagi kala kita merasa kita dulunya juga golongan orang2 yang punya prestasi yang sama seperti mereka. Rasa kangen pada masa lalu itu tiba-tiba menjelma menjadi titik-titik yang memilukan, karena kita saat ini bukanlah kita yang dahulu dengan segudang prestasi akademis atau mahasiswa kesayangan dosen di kampus. Kesibukan dakwah dan mengurusi masalah ummat, serta merta mengambil jatah waktu istirahat dan belajar kita, walaupun sebenarnya di luar itu kita telah belajar lebih banyak dari mereka yang sekedar mengurusi diktat-diktat kuliah. Ya, sebenarnya kita telah belajar untuk peduli dengan orang lain, di saat orang lain sibuk mengurusi diri mereka sendiri. Kita belajar untuk ikhlas di saat kita mendapatkan nilai yang biasa-biasa saja di suatu mata kuliah, meski sebenarnya di mata Allah kita mendapat nilai istimewa. Kita belajar untuk berkorban, memberikan harta, tenaga dan pikiran kita meski kadang banyak yang tak pedulikan pengorbanan kita. Hanya berharap suatu saat Allah pasti akan memberi bonus pada kita, walau pastinya kita tak tahu.

Manusiawi. Perasaan letih, sakit, sedih, marah, atau segudang ekspresi perasaan lainnya adalah manusiawi. Kita aktivis dakwah, manusia dan bukan malaikat. Siapa pun pasti tak ingin hidupnya berantakan. Siapa pun pasti mendambakan hidup "nyaman" di dunia.
Namun, apakah itu satu2nya tujuan? atau itukah semulia2 keinginan? We have known the answer. Kita sudah tahu jawaban yang benar.....