Kamis, 31 Mei 2012
Sekedar Sharing
Sabtu, 11 Februari 2012
Puisi di Wedding Card Saya
Saya maunya yang 'doa pernikahan' yang 'islami' gitu. saya kirim ke dia. No comment, sementara diterima konsep saya. Nah, malamnya saat saya sudah melanglang buana ke alam mimpi, saya di sms beberapa alternatif puisinya Rumi sama si Gibran. Finally, ngalah deh saya. Secara tuh puisi lbh bagus dari yg saya kirim ke dia. sepakat punya sepakat dua puisi inilah yg akhirnya nangkring d wedding card nya kami.
Penasaran apa isinya tuh puisi, check it out (siapa tahu ada yg lagi nyetak undangan weddingnya, dan pengen ngasih kata mutiara jg, silahkan di copast, heheh )
Kebahagiaan adalah saat kita duduk bersama,
Dua sosok, dua wajah, yang menyatu …
kau dan aku.
Bunga-bunga ‘kan bermekaran dan
burung-burung ‘kan menembangkan kidungnya,
ketika kita memasuki taman … kau dan aku.
Bintang-bintang ‘kan muncul di langit ‘tuk menjadi saksi,
‘kan kita terangi mereka,
dengan cahaya purnama … kau dan aku.
Tiada lagi pemisahan ‘kau’ dan ‘aku’
nuansa kebahagiaan dalam penyatuan semata -
kegembiraan, kegairahan, tiada kesusahan … kau dan aku.
Burung-burung surga yang bersayap cemerlang,
‘kan menukik turun ‘tuk minum air yang manis -
air mata kebahagiaan kita … kau dan aku.
Betapa sebuah keajaiban, kita duduk disini,
walau di tepi dunia yang berseberangan,
kita tetap akan duduk bersama … kau dan aku.
Kita adalah satu sosok di dunia ini,
dan menjadi sosok yang lain dikemudian.
bagi kita ada surga yang abadi,
keceriaan yang tanpa akhir …. kau dan aku
(Jalaluddi Rumi)
Dan ketika kami memutuskan saling mengerti, kami biarkan dua hati kami bicara : tentang impian-impian kami, tentang hasrat dan kerinduan, kemudian kami menjadi takjub, karena ternyata kami begitu berbeda, sekaligus juga begitu serasi.
Maka kamipun berjanji untuk menyatukan hati kami dalam suatu bahtera, agar yang berbeda, meski berbeda namun jadi serasi, agar yang kosong, dapat terisi dengan sempurna, agar segala impian dapat kami wujudkan berdua.. Karena perbedaan kami bukanlah kendala selagi kami masih memakai bahasa yang sama dan bahasa itu bernama Cinta (Khalil Gibran)
Menulis Lagi
Ahai, sudah lama aku mengabsenkan diri dari dunia tulis menulis.
Berat, tp kucoba mengumpulkan semua keinginan, semua tenaga untuk mulai menekan huruf demi huruf di komputer.
lalu... satu tulisan pun selesai. Dengan usaha, kerja keras dan keringat. Tapi bukan tulisan panjang, hanya beberapa baris saja. hmmm...
Susah nian, sengal rasa pikiran untuk bisa menulis lebih panjang lagi, lebih punya makna lagi.
Seperti kata orang, aku ini bisa dibilang mati inspirasi. Atau barangkali, aku memang dasarnya tak memiliki bakat seorang penulis, seperti penulis-penulis yang bukunya sering kubaca.
Well, apapunlah, tapi aku sudah merasa senang karena sudah berusaha.
Soalnya aku jealous juga liat teman-temanku blognya penuh.
Besok, lusa, kedepannya, semoga aku bisa menulis lebih banyak lagi, lebih baik lagi....
Senin, 10 Januari 2011
Tak Menentu
Ada apa denganku pagi ini? Bangun dengan perasaan yang sulit kuungkapkan, tak menentu. Padahal aku telah menyusun hati dengan sebaik2nya beberapa waktu lalu. Dan hari ini aku harus bertemu dengan banyak orang. Kalau moodku sedang hilang begini, mungkinkah semuanya akan baik2 saja? huh! I don’t like the way I’m this morning.
Minggu, 11 Juli 2010
Monolog Tahun ke-25
Coba lihat hidupku. Aku belum jadi apa-apa. Tak ada yang bisa kubanggakan. Belum cukup 'besar' untuk menjadi manusia. Belum layak disebut bermakna.
Lihat aku. Secara duniawi aku tak punya apa-apa. Rumah tak punya. Kuliah belum sarjana. Pekerjaan tak jelas. Fasilitas nebeng semua. Mau bagaimana hidupku tahun depan? Mau kerja apa nanti? Belum bisa kujawab semua. Spiritualitas? Jauh minus. Dewasa? Ehmm....jauh, underground. Bijaksana? Low. Stress? High!
So, beginilah kawan diriku. Kutilik note-note yang sempat kubuat tahun lalu. Terpampang jelas "AKU di 2010". Apa kini? Itu semua hanya carikan kertas, sedang aku masih sampai di sini. Terkatung-katung mencari kepastian nasibku. So? sudah layakkah aku disebut manusia?
Begitu banyak yang ingin kutemukan suatu hari, tapi belum kutemui hari ini, kawan. Katakanlah, belum jadi bagian dari takdir hari ini.
Tapi esok? Kemungkinan pasti ada. Lagipula, siapa yang tahu apa yang terbaik bagiku?
Siapa yang tahu waktu tertepat untukku? Hmm.... Entah sobat, Tuhan mungkin?
Kau benar. Aku sudah 25 tahun. Tapi itu tak begitu penting kurasa.
Setidaknya aku masih hidup hingga kini. Masih sempurna dari ujung kaki hingga rambut.
Masih bisa bertemu dengan banyak orang. Masih bisa tertawa. Masih bisa kuliah. Masih bisa mengeluh disini. Masih bisa...masih bisa, kawan.
Aku mungkin memang belum cukup besar dan bermakna.
Tapi, sesungguhnya, apakah arti besar dan bermakna itu sendiri? Katakan, apa standarnya?
Saat kutanya itu pada diriku, aku makin binggung. Lalu aku teringat kata seorang kawan baik, bahwa segala sesuatu dimulai dari pikiran. Yakkk...dan mungkin ia benar.
Jumat, 12 Maret 2010
Teman Bicara
Kita masih bicara
Tentang apa yang kita lalui hari ini
Lalu tentang tulisan
Lalu tentang takdir
Lalu tentang kehidupan
Kau bertanya
Aku menjawab
Dan sebaliknya
Tak ada rentang
Semua terbuka
Apa adanya
Kita bagai dua sisi yang baru saja dipertemukan
Saling menanti di sudut kota
tiap senja menenggelamkan matahari
Menunggu hingga malam
Ketika suara binatang-binatang mengalun tenang
Hanya untuk berkisah soal masa depan
Juga mimpi-mimpi yang kita rajut tiap hari
Kita, adalah teman bicara
Ramah
Beberapa waktu lalu sempat terkaget-kaget mendapati diri saya “dinobatkan” sebagai senior teramah dalam momentum acara puncak HUT Asrama yang saya tempati. Sebelumnya memang ada poling asrama putri dan putra untuk beberapa nominasi yang telah dibuat. Namun, malam itu sungguh membuat sedikit terkejut. Senang iya, namun lebih dari itu membuat saya introspeksi diri, akan eksistensi diri saya di tengah-tengah orang yang saya cintai. Benarkah saya selama ini sudah sedemikan ramah? Ehm… lebih tepatnya, benarkah saya telah membuat orang-orang di sekitar saya merasa aman dari kata-kata yang keluar dan tindakan saya? Saya mencoba mengaca diri kembali. Bagaimanapun selama ini saya masih merasa sangat egois. Ketika sedang tak enak hati, seringkali orang-orang di sekeliling saya mendapati saya cemberut, tidak menyapa, tidak berwajah ceria atau paling tidak diam, seakan masalah saya paling besar, seakan saya paling stress, seakan saya paling layak tidak menyapa karena saya senior. Begitukah? Ehm….Sungguh saya malu pada diri sendiri saat mendapatkan award senior teramah itu. Lalu bagaimana di luar sana? Saya juga merasa sering sungkan menyapa duluan orang yang saya temui. Malah terasa lidah sangat berat menyapa orang-orang yang tidak saya kenal dalam antrian, masjid, bus kota, rumah makan, atau tempat umum lainnya.
Masya Allah… Saya masih juga sombong ya? Makanya sempat malu dan grogi sendiri saat suatu hari harus memberikan meteri soal senyum, salam dan sapa dalam suatu moment siaran. Duh…diri ini saja masih sombong pada sesama…Padahal apa susahnya menarik bibir 2 cm ke kiri dan ke kanan demi membentuk sebuah senyum tulus. Apa salahnya memberi sepotong kata “Assalamuailaikum” pada orang-orang yang saya temui, juga tak susah menyapa dengan sedikit berbasa-basi pada orang yang baru ditemui. Apa susahnya.?Bukankah setiap orang senang disapa, diberikan sepotong senyuman, dan didoakan dengan assalamualaikum?”…
Sungguh harus tertegun membaca bukunya Dakwah Fardhiyah Hassan Al-Banna. Saking ingin berkenalan dengan seseorang dalam bus kota, belio rela ‘berpura-pura’ menginjak kaki orang yang ingin dikenal dengan maksud basa-basi untuk memulai pembicaraan lebih lanjut.
Saya jadi teringat pada tulisan seorang teman. Belio berkata, apa sih susahnya me-like status seseorang di face book? (thanks dini…) Saya sepakat! Bukankah memberikan tanda like itu, hanya persoalan menekan tombol klik pada mouse? Dan rasanya itu sangat tidak sulit. Bahkan memberikan sedikit kata-kata komentar pun tidak sulit, cukup memberikan sepatah dua patah kata saja, dan sahabat kita akan senang…
So, alangkah menyenangkan bila kita bisa ramah pada semua orang. Semua orang suka pada orang ramah dan membuka diri. Secantik dan seganteng apapun wajah seseorang, kalau terlihat sangar dan cemberut pasti tidak sedap dipandang. Kuncinya, harus berani memulai duluan, dan jangan takut bila dicuekin. Bukankah telah dikatakan, bahwa rezeki seseorang akan panjang dengan silaturrahim. Siapa tahu, saat kita menyapa seseorang yang baru kita kenal, dan saat itu ternyata dia butuh seseorang untuk dipekerjakan, eh…. kita malah dikasih kerjaan, ya gak? He he he…:] Wallahualam bis shawab..
