RSS

Rabu, 18 November 2009

Koma dan Titik: Part 2

Tadi malam, aku sempat berpikir sejenak sebelum tidur, sebenarnya hidup itu simple. Hidup adalah representasi dari dua hal saja. Kalau boleh aku mengidentikkannya dengan tanda baca, maka tanda baca yang paling cocok buat mewakili hidup adalah koma dan titik. Koma adalah representasi dari sesuatu yg bisa kita usahakan dan titik adalah represetasi dari apa yang tidak bisa kita usahakan, hanya kita serahkan pada Tuhan.

Hidup ini punya kita. Kitalah sang sutradaranya, kita penulis skenarionya, kita pemainnya dan kita yang akan menentukan endingnya. Itu koma. Tuhan memberikan kita wewenang penuh atas apa yang boleh kita usahakan. Namun kadang hidup itu adalah titik. Kita merasa sudah melakoni peran yang diberikan dengan sebaik2nya, tapi pada akhirnya kita harus tunduk atas apa yang disebut sebagai ketetapan takdir yang sudah IA tuliskan sejak lama skenarionya.


Well, whatever the life is, koma kah dia, atau titik kah dia, aku percaya ini adalah bukti kearifan Tuhan. Kadang kita diberikan harapan, kadang kita hanya disuruh menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Dia Tuhan, kita hanya Manusia. Dia tahu apa yang terbaik dan tidak baik untuk kita.... Wallahualam bis Shawab.

Mati Muda

Mati muda, kalau ada yang bertanya apakah siap mati muda? Mugkin hanya sedikit atau bahkan tak ada yang akan menjawab siap. Saya pun begitu. Kalau boleh memilih, saya akan memilih berumur panjang, dan mati saat semua yang saya ingin kerjakan, atau yang ingin saya cita2kan dalam hidup ini tercapai. Saat saya benar siap menyerahkan amal terbaik pada-Nya. Tapi bukannya kematian kita sudah dituliskan? Dan saya sudah sering menyaksikan bagaimana orang2 yang selama ini dekat dan bersama saya, mati dalam usia yang masih muda. Makanya tiap kali akan tidur, saya kadang takut untuk memejamkan mata. Akankah esok masih milik saya, atau kah saya tak dapat membuka mata lagi dan meyaksikan diri saya sendiri yang tidur selama2nya…, kembali ke alam keabadian.

Kematian memang misteri. Kita tidak pernah tau kapan malaikat maut akan datang dan menjemput. Kematian….adalah persoalan ‘hidup’ yang abadi, persoalan rumah masa depan yang akan kita tinggali selama2nya, persoalan bagaimana dan seperti apa kita ingin dikenang oleh orang2 yang kita tinggalkan? Tak peduli, kita tua ataukah muda…

* Mengingatkan pada teman2 yang telah meninggalkan “Fadkhuli Fi I’badi, Fadkhuli Jannati, masukkah ke dalam golongan hamba2Ku, masuklah ke dalam syurgaKu…”

Minggu, 15 November 2009

Ternyata Gak Mudah

Ternyata apa yang saya pikir mudah, malah jadi gak mudah. Ni gara2 kelas Script writingnya kak Eka Damayanti hari Jumat lalu. Abis dikasih materi buat script, kita2 malah disuruh ngedit script then ngebaca script editan itu. Teman2 sepakat nunjuk sy buat baca script opening siaran itu. Apa yang terjadi, suara saya fals abis, pronunciation gak jelas, durasinya cuma ngabisin 1 menit... Jelek bangets! Ternyata, lama gak siaran, bikin lupa segala teori "smooth n control". Dan lebih ternyata lagi, saya ngerasa bakalan susah mengubah style siaran di Radio "Umum" ke radio "Komunitas" yang punya rule and style sendiri. Tapi ada yang lebih gak mudah lagi dari itu semua.... (hard to mention). So, harus belajar dari awal lagi. Mudah2an di kelas vokal n baca crispt nanti semua akan lebih baik lagi. Karena mengingat bulan depan kita semua bakalan banyak rekaman2 lalu evaluasi. Keep Strugle, error and trial...

Sabtu, 14 November 2009

How Sincere...

Siang itu, kamis 12 November 09, saat pulang dari rumah MR, tiba2 aja motor sy ditabrak dari belakang pas mau belok, padahal udah nyalain lampus sen. Lukanya sih gak parah, tapi saya ngerasa perlu nulis ini buat mengingat betapa saya belajar banyak dari Si Bapak yang nabrak. How sincere he is. I can't believe this, but for his responsibility, I can't say anythings....

Selasa, 10 November 2009

Kopi itu Pahit...


Saya bukannya akan bercerita tentang bagaimana caranya membuat kopi yang enak. Saya juga tidak akan membahas, bagaimana sebenarnya rasanya kopi. Saya pikir, anda semua sudah tahu bahwa rasanya kopi ya…pahit. Bahkan orang yang tidak pernah minum kopi pun mungkin tahu, bahwa yang namanya kopi pasti pahit, meskipun mungkin ada orang2 pecandu kopi yang akan bilang rasanya kopi itu enak, meskipun belum dicampur gula, dst…

Well, belajar lagi dari pengalaman minum kopi. Bahwa pada dasarnya rasa kopi itu pahit, tapi bisa jadi enak dan bisa bikin kecanduan justru dari rasa pahitnya yang khas. Malah kalo tidak pahit, tidak khas enaknya. Kok pahit jadi enak ya? Tentu rasa kopi yang pahit tidak akan enak kalo hanya diseduh pakai air tanpa gula, atau cream, atau susu. Tapi kalo membuat kopi hanya pakai gula, tambah cream atau susu, tak bisa juga disebut kopi. Justru harus ada bubuk pahit hitam pekat yang baunya harum banget itu yang bikin itu layak disebut kopi (jadi kepanjangan cerita bikin kopinya….^_^)

Tidak ada bedanya dengan hidup. Tidak semua orang dikasih hidup yang lurus, enak dan mudah sama yang di Atas (kita analogikan dengan kata manis). Ada orang2 yang justru hidupnya susah, harus usaha keras, harus banting tulang, penuh keruetan, dan tidak lurus-lurus saja (pahit, seperti rasanya kopi bukan?). Tapi justru itulah seninya hidup yang dibuat Tuhan. Makanya saya tidak setuju abis sama lagunya Nidji dalam ost nya Laskar pelangi “Meski hidup kadang tak adil…”. Menurut saya, justru karena Tuhan sangat adil, makanya jalan hidup kita berbeda2. Bisa dibanyangkan kalo jalan hidup kita sama, sama2 manis semua? Pasti dunia ini bakalan datar, tak ada seninya.

Merekayasa Hidup itu sama dengan membuat kopi. Kadang ada bagian2 hidup yang terasa sukar untuk dijalani, tapi mengapa tak kita coba untuk membuatnya seperti kopi saja? Bukankah awalnya rasa kopi juga pahit. Mengapa kita tak coba menambahkan gula, cream, mocha, atau susu agar rasanya enak? Ya, tenyata selama ini yang salah itu cara seseorang memandang hidup, setidaknya itulah yang saya pelajari baru-baru ini. Meskipun mungkin kita tidak bisa membuat secangkir susu yang rasanya memang sudah manis sejak awal, but at least, kita bisa membuat secangkir kopi yang manis, yang bau harumnya membuat orang berselera untuk mencicipinya.So, let coffee up your life.

Rabu, 28 Oktober 2009

Saya cemburu…

Pernah merasa cemburu? Saya yakin, setiap orang pernah merasakannya. Dan beberapa waktu ini saya benar2 sedang cemburu. Tapi jangan diartikan saya iri, saya hanya cemburu. Perasaan manisiawi yang datang tanpa direkayasa. Saya bukan posesif. Apasih di dunia ini yang milik saya? semua hanya titipan Allah, jadi buat apa saya merasa memiliki. Tapi perasaan itu datang dan mengganggu saya akhir-akhir ini. Kemudian membuat saya bertanya keheranan, kenapa bisa?

Saya cemburu. Saya mencoba mendefinisikan perasaan ini sebaik-baiknya. Jangan sampai saya salah arti. Entahlah, apa saya boleh menyimpan perasaan seperti ini atau harus saya buang jauh2. Tapi saya rasa Tuhan juga membolehkan. Bukankah Ia juga sangat pencemburu bila ‘cinta-Nya’ di duakan? Begitupun saya… Tapi yang perlu menjadi catatan, kecemburuan saya ini bukan tanpa alasan. Juga bukan karena saya tak bisa melakukan hal serupa. Saya bisa, hanya tidak mau… malah kalau saya mau, jalannya sudah terbuka lebar di depan mata… hanya, saya tak mau menceburkan diri terlalu dalam…

Saya hanya cemburu, karena satu hal yang membuat tak ‘sreg’ untuk didengar dan di saksikan. Karena saya tak segitunya. Apa yang membuat saya cemburu? Susah saya jelaskan, ada hati yang harus saya jaga. Saya tak mau menyakiti siapapun dalam hal ini, meski hati saya miris bukan main. Saya takut….,toh selama ini saya juga tidak sebaik apa yang dipikirkan. Saya hanya merasa itu tak pantas kita lakukan selaku orang2 yang mengaku ‘nahnu du’at qobla kulli syai’in’…. Mengatakannya? Saya tidak seberani itu. Sekali lagi demi menjaga perasaan orang lain. Tapi yang pasti keadaan dan interaksi seperti itu membuat saya ‘muak’ bercampur sedih… hingga semuanya hanya menyisakan tanya, juga tangis dalam diam, Kemana hasil tarbiyah kita setiap pekan? Kemana kita yang sudah bertahun2 berada dalam lingkaran tarbiyah ini? Wallahualam bis shawab… Hanya Allah yang mengetahui apa yang kita zahirkan dan kita sembunyikan.

Senin, 26 Oktober 2009

Hidup Normal

Satu hari aku berkata pada seorang teman dengan penuh keyakinan. “Back to our normal life..”

Tapi hari ini aku bertanya pada diri sendiri. Adakah hidup yang normal itu? Apakah konotasi kata normal itu sama artinya dengan 'tidak gila', tapi bukankah sebagian besar peristiwa yang kini kita jalani adalah pilihan sadar? Dan karenanya segala sesuatu yang terjadi adalah konsekuensi dari hal-hal yang pernah aku pilih di masa lalu?

Kadang aku berpikir, kalau saja mesin waktu bisa kuputar, bagian mana dari hidup yang ingin kuubah? Jalan mana yang ingin kutempuh lagi, jalan mana yang ingin kuhindari? Sayangnya, jawaban pertanyaan itupun tak berguna. Cuma sekedar mengorek luka lama. Pahit...

Akhirnya, aku pikir, mungkin memang tak ada hidup yang normal. Sekaligus tak ada hidup yang tak normal. Yang ada cuma kini yang nyata, setumpuk pilihan hidup untuk disegerakan. Hidup cuma sekali. Untuk itu mesti berarti. Entah normal atau tidak, tak peduli.

Hanya saja, seperti kata bang 'long' agus, bahwa kita tak akan pernah bisa memperbaiki masa lalu atau kembali ke masa lalu, tapi kita bisa bisa memulai sesuatu yang lebih baik di masa depan.


*Saat sedang "normal"....