RSS

Kamis, 22 Oktober 2009

Ku tanya Tuhan

Hei...kutanya Tuhan pagi ini, kalau itu memang yang ia tuliskan sebagai nasib, aku akan menerimanya, dengan senang hati.

Demi sesuatu yang mungkin belum begitu kutahu akhirnya. Atau sesuatu yang masih berputar2 di udara dan belum bermuara di satu titik.

Tak perlu berpikir panjang, cukup berbekal kenekatan, dan membuang pesimis ini. dan Akhirnya... d dream comes true...

i'm so happy, any way.


Selasa, 20 Oktober 2009

Koma dan Titik

Koma dan Titik

Simple saja dua kata itu. Makanya blog ini akhirnya berganti menjadi dua tanda baca yang menurut saya paling sering kita pakai untuk menulis. Gak punya alasan yang mendasar sebenarnya. Just wannna enjoy d new blog.

Koma dan titik. Kadang saya merasa hidup kita ya dua kata itu. Kadang titik kadang koma. Untuk filosofinya, may be next time will be told completely. Soalnya sekarang lagi fokus googling hunting bahan skripsi..^_^

Rabu, 14 Oktober 2009

Pulang

Pulang….

Bagiku, pulang adalah langkah untuk memetakan dan memahami apa yang kulakukan hari ini. Termasuk sore kemarin, sore 2 hari yang lalu, juga sore-sore sebelumnya saat aku PULANG dari rutinitas bertemu malaikat-malaikat kecil nan ceria di tempat aku mengajar, murid-muridku yang lucu dan gembira. Rutinitas sore ini sudah lama kujalani. Menyenangkan, karena aku banyak belajar dari mereka tentang optimisme kanak-kanak yang tak perlu kompensasi. Dan jika aku pulang, maka aku merasa sudah menemukan semuanya.

Pulang...

aku pulang untuk menemukan kesejatiaan diri. Memupuk semangat untuk esok pagi. mempersiapkan diri untuk kembali menulis cerita masa depan. Sungguh aku ingin pulang…

Senin, 12 Oktober 2009

Aku si Pejalan Kaki


Sudah lama rasanya aku pergi
Menempuh jarak berkilo-kilo
Tak kunjung menemukan keberartian yang kucari

Aku si pejalan kaki
Mengitari hutan,
Berteduh di bawah jelaga
Mencari jejak kesejatian
Bilakah cita terkayuh lagi?

Kamis, 08 Oktober 2009

Perahu Kertas

Perahu Kertas. Aku baru saja menyelsaikan buku itu disela-sela kesibukan berbenah diri, dan menyelesaikan satu tugas untuk masa depan. Bagiku, buku ini mengingatkanku pada impian-impian masa kecil. Sesuatu yang seringkali kita lupakan. Padahal, seperti kata Keenan, “ Jalan kita mungkin berputar, tapi satu saat, entah kapan, kita pasti punya kesempatan untuk jadi diri kita sendiri.”

Kalimat itu membuatku merenung dalam. Melihat diriku sendiri, terasa ada hal-hal yang hari ini harus aku kompromikan demi kelangsungan hidup. Demi situasi yang disebut : realita. Namun, selalu ada yang tak boleh dilupakan. Bagi Keenan itu adalah impian menjadi pelukis, bagi Kugy itu adalah cita-cita menjadi penulis dongeng. Bagiku, itu adalah cita-cita untuk memberi inspirasi, membuka jalan, membagi semangat dan keberanian bermimpi pada lebih banyak orang di sekelilingku, lebi-lebih bagi diriku sendiri.

Perahu Kertas memang tak se‘berat’ novel Dee (dewi lestari, red) yang dulu. Ia lebih ‘muda’ dan 'ringan'. Tapi dengan liku-likunya kita diajak berkaca pada labirin cinta yang berkabut. Bukan masalh cinta itu yang harus dibahas habis-habisan, tapi pelajaran hidup yang syarat makna di dalamnya yang dihadirkan dee dengan apik. itulah pusaran energi antara Keenan, Kugy, Remi dan Luhde. Yang pada akhirnya, kejujuran hatilah yang menang. Mungkin menyakitkan, namun pada akhirnya lebih menentramkan. Setidaknya, agar kita tak hidup dalam kepalsuan.

Kepalsuan sebuah hubungan. Kepalsuan sebuah karir. Kepalsuan rasa bahagia. Kepalsuan hidup. Bukankah sebagian kita tenggelam di dalamnya?

Senin, 05 Oktober 2009

Sepatu Kebahagiaan

Bahagia. Entah berapa banyak aku menulis tema ini... Ternyata, bahagia itu memiliki banyak dimensi, hingga tak pernah habis untuk dikisahkan. Aku bahagia. Aku punya taruhan hidup yang harus kubuat bahagia. Aku juga tak ingin menyesatkan diriku sendiri, membiarkannya dalam keterpurukan. mengapa aku harus tak bahagia? Aku memiliki semuanya. Seorang makhluk lengkap yang diciptakan tanpa cacat. Karena itu, setiap kali bangun tidur, selalu kutanamkan dalam hati untuk menjalani hari dengan sebaik-baiknya, memasangkan kaki ini sepatu kebahagiaan. Ya..., kebahagiaan adalah sepatu yang harus kupakai setiap hari. Kenapa? Semata ingin menunjukkan pada-Nya bahwa aku telah bertanggung jawab atas nafas yang ia tiupkan. Aku ingin berarti, ingin memilki sesuatu yang bisa ruhku banggakan, karena berada dalam jasad seorang aku.

Aku tak hendak mengatakan aku tak pernah bersedih. Seringkali, tribulasii dan keadaan membuatku jatuh bangun mempertahankan hidup. Menghentak, sesekali sanggup membuat terdampar dan pecah. Tapi aku tak ingin selamanya berantakan. Kupungut kembali puing-puing yang tercecer, menyusunnya kembali, dan menemukan diriku sudah seperti sedia kala. Kita tak akan pernah mengenal positif, tanpa negatif. Hidup pun demikian. Kita baru akan merasakan benar2 bahagia itu berarti saat kita pernah jatuh. Ya, hidup memang terasa sedikit lucu dan sedikit ironis. Kadang kita dibuat terbang setinggi-tingginya karena bahagia, dan kadang dihempaskan sedalam-dalamnya. Tapi, bahagia itu adalah pilihan. Tangis tak selalu berarti berduka, sebaliknya tawa tak selalu didefinisikan dengan bahagia. Kadang, orang tertawa dengan cara menangis, dan menangis dengan cara tertawa. That's the art of life, seninya hidup.


*Saat kembali menata diri, setelah lepas dari Ujian Hati itu. Thanks Lord

Minggu, 04 Oktober 2009

Ada yang Hilang

Aku merasa ada yang hilang, tanpa tahu apa yang sudah aku temukan...
Aku merasa menemukan tanpa tahu apa yang aku cari...
dan aku seperti masih mencari tanpa tahu apa yg sudah hilang...

Manusia memiliki mimpi.. ada yg mengejar dan mewujudkannya, ada yg mundur dan membuangnya, ada pula yang diam dan hanya menyimpannya sepanjang sisa hidupnya..
dan aku akan menjadi manusia yg terakhir itu…”

(he he he... ni puisi yg kian melow, miliknya BCL)